Berkaca pada negara China yang saat ini menjadi raksasa teknologi dunia, mereka masih menjadikan buku sebagai panduan utama dalam meningkatkan pengetahuan rakyatnya. Di berbagai pusat buku dan perputakaan tak pernah sepi oleh hiruk-pikuk generasi muda yang haus akan literasi.

Mereka  dengan kokoh menanamkan keyakinan dalam dirinya, bahwa buku sebagai sumber pengetahuan suatu saat akan mampu mengubah hidup dari keterbelakangan dan kemiskinan menuju kesejahteraan. Walaupun tak semudah berkata-kata, kita patut berguru pada China saat ini. Kita seharusnya iri pada mereka yang rela mengantri dari dini hari, bukan untuk menerima sembako dan makanan gratis tetapi berebut dibarisan terdepan untuk menyerap ilmu pengetahuan. Membaca buku.

Baca Juga  Membumikan Kelekak, Solusi Kerusakan Alam Bangka Belitung

Akhirnya, marilah kita renungkan bersama, akan dibawa kemana dunia kepenulisan dan sastra kita ini? Apakah akal dan budi pekerti serta nurani kita sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna akan kita ikhlaskan begitu saja diambil alih oleh robot yang tak mempunyai rasa dan perasaan?

Jangan sampai kita sendiri kehilangan “rasa” dan tak memahami apa yang kita klaim sebagai tulisan kita, akibat begitu mudah berkarya dengan sepenuhnya mengandalkan AI. Dengan membaca dan memperkaya gaya bahasa dan riset secara konsisten, mari kita jaga originalitas karya  dan diikuti  juga dengan berkomitmen untuk terus berkarya.

Kita tak boleh kehilangan ciri khas dan  jati diri sebagai penulis akibat teknologi. Jadikan AI sebagai salah satu bagian kecil dari referensi dan bukan sumber utama dalam berkarya. Originalitas dalam berkarya akan menjadi pembeda sehingga kita mudah dikenali oleh para pembaca. Selamat berkarya dan salam literasi dari Toboali.

Baca Juga  Kemerosotan Akhlak, Etika dan Moralitas Pelajar

Penikmat sastra dan seni budaya tinggal di Toboali Bangka Selatan.