Oleh: Sobirin Malian
Anggota MHH PP Muhammadiyah

Dunia hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang menentukan. Krisis kemanusiaan yang berlarut-larut, ketimpangan ekonomi yang ekstrem, dan standar ganda dalam penegakan hukum internasional telah membuka tabir rapuhnya tatanan dunia saat ini. Di tengah hiruk-pikuk ini, muncul suara-suara kritis seperti David Miller—akademisi yang berani mengungkap jaringan pengaruh Zionisme di jantung institusi pendidikan Barat—yang mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang fundamental yang harus diperbaiki.

Runtuhnya Narasi Tunggal dan Aliansi Intelektual Merdeka

Selama beberapa dekade, narasi materialisme Barat telah mendominasi panggung global. Namun, ketika narasi tersebut terkooptasi oleh kepentingan sempit dan pembiaran terhadap ketidakadilan, kepercayaan publik mulai luntur. Keberanian David Miller menjadi simbol perlawanan intelektual terhadap sensor pemikiran yang selama ini membungkam kritik atas penindasan.

Baca Juga  Momentum “Hebat”: Kebangkitan Ekonomi dan Pembangunan Manusia

Keberanian Miller ini nyatanya tidak berdiri sendiri; ia beresonansi dengan garis perjuangan para pemikir kritis Muslim dunia. Sosok seperti Sami Al-Arian, akademisi yang gigih melawan persekusi intelektual pro-Palestina di AS, dan Farid Hafez, pakar Islamofobia yang membongkar bagaimana narasi “keamanan” sering kali digunakan untuk mengkriminalisasi identitas Muslim, mempertegas bahwa apa yang dialami Miller adalah pola global pembungkaman kebenaran.

Dukungan dari aktivis intelektual seperti Ahdaf Soueif hingga sejarawan Yahudi-Israel Ilan Pappé—yang secara konsisten membedah Zionisme sebagai proyek kolonial—menegaskan bahwa pertarungan ini bukan sekadar sentimen agama. Ini adalah front bersama para pemikir merdeka melawan penggelapan sejarah, rasisme sistemik, dan hegemoni yang mematikan nalar sehat.

Baca Juga  Pro Kontra Uang Pensiun DPR

Ancaman ‘Strongman’ dan Krisis Kepemimpinan

Krisis ini kian nyata ketika panggung dunia kian ditandai oleh fenomena ‘strongman’—para pemimpin otoriter yang menggiring tatanan global menjadi sekadar ajang hegemoni kekuasaan. Ambisi mereka secara perlahan justru menghancurkan pilar-pilar peradaban yang telah susah payah dibangun, seperti demokrasi yang partisipatif, supremasi hukum internasional, hingga kultur ideologi yang lebih manusiawi.

Alih-alih merawat tatanan yang adil, kebijakan para strongman ini sering kali nampak sekadar sebagai pelampiasan ego pribadi yang menggerus kompas moral dunia demi melanggengkan dominasi. Dalam konteks ini, kritik Miller dan kawan-kawan menjadi sangat krusial: mereka mengingatkan bahwa peradaban tidak boleh disandera oleh nafsu kekuasaan segelintir elit yang menutup mata atas genosida dan ketidakadilan.

Baca Juga  Sinting: Manifesto bagi Para Pendobrak