Menangkal Scam Digital di Indonesia: Antara Kerugian Besar, Solusi Teknologi, dan Tantangan Penegakan Hukum

Oleh: Sobirin Malian — Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan

Global Anti Scam Alliance (GASA) Indonesia dalam laporan State of Scam Indonesia 2025 mengungkap fakta mengkhawatirkan tentang kerugian akibat penipuan digital yang mencapai Rp 49 triliun per tahun. Jika angka ini dialokasikan untuk pembangunan fasilitas publik, dana tersebut dapat membangun sekitar 5.000 puskesmas atau bisa memberi bea siswa 5 juta orang di semua tingkatan sekolah dan perguruan tinggi. Tidak hanya di Indonesia, laporan GASA ASEAN memperkirakan kerugian dari scam digital di kawasan Asia Tenggara hingga Asia imur mencapai Rp378 triliun, dengan 66 persen populasi dewasa pernah menjadi korban scam.

Di Jepang, laporan 2024 mengungkapkan bahwa 71% warga Jepang (rata-rata) mengalami scam digital setidaknya sekali dalam sebulan, dengan kenaikan 8% dari tahun sebelumnya. Namun, hanya 27% yang merasa percaya diri dalam mengenali scam tersebut dan kemudian berusaha melaporkan ke pihak berwajib. Kasus seperti phishing (penipuan via on line) melalui email, SMS,WA, dan/atau media sosial meningkat, dengan kerugian tidak kalah besar terutama dari penipuan transfer bank dan investasi palsu.

Baca Juga  Prostitusi Makin Canggih, Kok Bisa?

Meskipun demikian, pelaporan ke aparat hukum sangat rendah (hanya 13%), yang menunjukkan kesenjangan dukungan bagi korban. 61% warga Jepang melaporkan hilangnya kepercayaan pada internet akibat pengalaman scam ini. Tingkat kesadaran terkait phishing meski cukup tinggi, namun masih perlu peningkatan edukasi dan kemudahan pelaporan agar penanganan lebih efektif.​

Di Korea Selatan, jumlah kasus scam digital juga meningkat. Data 2024 dari Seoul menunjukkan peningkatan 25% keluhan tentang penipuan online, khususnya di platform belanja daring. Kerugian finansial dilaporkan mencapai sekitar 118 juta won, dan terdapat upaya aktif dari pemerintah setempat untuk mengatasi termasuk refund dan mediasi.

Namun dari sisi kerugian skala nasional, phishing dan penipuan di Korea Selatan tercatat jauh lebih merugikan secara per kapita dibanding Jepang, dengan modus yang lebih canggih seperti penggunaan malware dan pembayaran melalui cryptocurrency. Hal ini terkait dengan ekosistem digital Korea Selatan yang sangat aktif dan masyarakat yang sangat terbiasa dengan transaksi digital, sehingga meskipun tinggi kesadaran, risiko terkena scam pun juga lebih besar.

Baca Juga  Pengawasan dalam Etika Pertambangan

Menurut laporan NPS (kantor Kepolisian Nasional Korea dan Agensi Keamanan Siber Korea (KCSA) tahun 2025 lalu, penipuan kripto mencapai 800 juta won (sekitar Rp9,5 miliar), penipuan romantis ada 13 orang didakwa atas penipuan cinta senilai 1,3 juta dolar US, di mana mereka berpura-pura menjadi wanita kaya dan menjerat korban untuk berinvestasi melalui platform palsu dan beberapa kasus lainnya.

Data ini menegaskan bahwa kejahatan digital ini merupakan ancaman serius yang memengaruhi jutaan orang dan menggerus ekonomi.

Upaya penanggulangan di Indonesia

Upaya penanggulangan scam digital harus dilakukan secara terpadu. Pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat diwajibkan meningkatkan kewaspadaan melalui edukasi dan pemanfaatan kanal pelaporan resmi seperti aduankonten.id, aduannomor.id, cekrekening.id, dan portal Otoritas Jasa Keuangan. Langkah ini diharapkan memudahkan deteksi, pemblokiran, serta penindakan pelaku scam.

Baca Juga  Pro Kontra Uang Pensiun DPR

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu solusi utama dalam perang melawan scam digital. AI dapat mendeteksi dan memblokir pesan maupun panggilan scam secara real-time tanpa perangkat khusus. Teknologi ini juga mampu memverifikasi otentisitas suara, gambar, dan dokumen yang sering dimanfaatkan pelaku penipuan. Dengan AI, pendeteksian modus-modus baru kejahatan digital dapat dilakukan lebih cepat dan akurat sehingga perlindungan terhadap korban optimal.

Ruh utama bisnis online adalah kepercayaan (trust). Namun, tanpa jaminan keamanan yang memadai, kepercayaan ini akan hancur. Masyarakat bisa beralih ke transaksi konvensional yang dirasa lebih aman. Oleh karena itu, menjaga keamanan dan transparansi dalam dunia digital sangat penting agar bisnis online dapat berkembang secara berkelanjutan.