Oleh: Yan Megawandi (Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Bangka Belitung)
dan Rusni Budiati (Interpreter Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung)

“Gila” mungkin adalah gelar penghormatan tertinggi dari kami yang dulu bertugas di dinas pariwisata. Gelar ini disematkan kepada orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang antimainstream demi membangun kepariwisataan, baik itu di tingkat masyarakat, swasta, maupun di pemerintahan.

Salah satu orang gila itu adalah Iswandi. Ia getol mengembangkan desanya untuk jadi desa wisata. Awalnya banyak orang di Belitung pesimis dengan niatnya. “Desa tambang mana bisa jadi desa wisata!, kira-kira mungkin begitu pikiran mayoritas kita.

Belakangan ketika wisatawan mulai datang dan bahkan menginap di Desa Terong, orang-orang pun mulai percaya bahwa ‘kegilaan’ Iswandi adalah kunci keberhasilan. Bersama warga dan perangkat desa lainnya, mereka kemudian berhasil menjadi desa wisata andalan dan unggulan. Tak hanya di kabupaten dan provinsi, tapi juga di tingkat nasional, bahkan di tingkat ASEAN.

Selain Iswandi, ada orang-orang gila lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti Zaiwan di Namang, Yasir di Kurau, Adong di Bukit Peramun, Asror di Dendang, Mendiang Akli Sahari di Penyusuk, Budi Setiawan di Batu Mentas, dan beberapa orang penggiat dari berbagai kalangan. Tidak banyak memang. Tetapi mereka telah membuktikan bahwa di Kepulauan Bangka Belitung ini ada orang-orang antimaintream yang berpikir dan bekerja out of the box, alias agak laen, membangun kawasan dari level tapak.

Baca Juga  Bingung Liburan Tahun Baru, Ini 7 Destinasi Wisata Menarik di Bangka Selatan

Beberapa waktu lalu, muncul unggahan di lini massa media sosial kami tentang seorang dosen Fakultas Kehutanan UGM, Agus Affianto atau sering dipanggil Agus Picoez. Ia berkicau di platform X bahwa dulu dia dianggap gila karena menanami lahan pasir bekas tambang timah di Lenggang, Belitung Timur dengan tanaman seperti cemara laut, semangka, buah naga, kelengkeng, dan sayuran, yang bahkan menurut ahli tanah memerlukan waktu 20 tahun untuk rumput dapat tumbuh.

Dengan ringan Picoez berkata, “Orang gila kan bebas, tanam ajalah”. Justifikasinya atas eksperimennya. Ia juga bercerita bahwa ia justru belajar dari kegigihan Nek Inah, seorang nenek 74 tahun di Gantung, Belitung Timur, yang istikamah menempuh perjalanan 10 km pulang pergi untuk upah tidak tetap mengurus tanaman di lahan tersebut. Ketika panen, malah tanaman-tanaman tersebut dipanen orang lain.

Baca Juga  Yan Megawandi, Pendekar Literasi Serumpun Sebalai

Kisah Picoez mengajarkan setidaknya satu sikap penting yang harus ada ketika manusia berusaha, yaitu istikamah, atau kita biasa menuturkannya dengan istiqomah, yaitu sikap teguh pendirian, kosisten, dan kosekuen yang tidak jarang harus disertai kesabaran berlipat-lipat.

Apakah istikamah sudah cukup? Tentu saja tidak. Selain itu tentu harus ada modal berusaha, entah itu berupa modal nonfisik seperti networking, keterampilan dan pengetahuan, modal fisik berupa aset misalnya lahan – atau dalam kasus Picoez adalah padang pasir eks lahan tambang timah – tenaga kerja, finansial, kreativitas, membaca peta serta tren masa depan yang berkelanjutan, dan lainnya.

Dalam banyak kasus, ketika ada sekelompok warga ingin membangun sebuah destinasi, yang diidentifikasi sebagai permasalahan utama adalah ketiadaan atau keterbatasan modal finansial untuk membangun infrastruktur. Akibatnya, ketika suatu daerah memiliki atraksi wisata yang menarik dan dianggap infrastrukturnya tidak memadai, maka yang buru-buru dilakukan adalah membuat proposal untuk membangun infrastruktur seperti panggung pertunjukan, gapura, sawung, jalan aspal, dsb.

Baca Juga  Mengenal Macam-Macam Letak Jerawat dan Penyebabnya

Apakah itu salah? Tentu tidak. Namun seringkali kita terlupa, bahwa karena atraksi yang ada mungkin adalah aset publik, terkadang insfrastruktur itu juga harus mengikuti aturan berlaku, misalnya di kawasan hutan tersebut tidak boleh dibangun jalan aspal atau bangunan permanen, di sempadan pantai juga tidak boleh didirikan bangunan permanen, dll. Termasuk permasalahan penggunaan lahan pun harus jelas ketika nanti yang membangun adalah pemerintah, agar tidak terjadi permasalahan hukum ke depannya.

Pun setelah dibangun, harus pula dimanfaatkan dan dipelihara yang tidak bisa terus disuapi oleh negara pembiayaannya. Kalau kata teman kami di Dinas PU, “Jangan sampai jadi monumen PU,” merujuk kepada fasilitas-fasilitas toilet yang mereka bangun namun tak terawat bahkan terbengkalai.