Menjaga Rumah Bernama Bangka Belitung
Oleh: Yan Megawandi – Ketua Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung
Saya sempat tertegun. Bukan karena siapa yang berbicara, melainkan karena pilihan kata yang digunakan: pecah belah. Sebuah frasa yang sudah sangat tua dalam sejarah bangsa ini, tetapi tetap saja selalu terasa baru setiap kali digunakan. Bayangan kita ketika mendengar atau membaca kata itu adalah soal piring, mangkuk, gelas dan teman-temannya. Sesuatu yang rawan pecah.
Terlebih ketika ia muncul bukan dalam konteks yang lebih ke arah menggiring terjadinya semacam perang terbuka, bukan pula dalam riuh rendah kontestasi nasional, melainkan justru di tanah yang selama ini kita kenal dan kita rasakan paling tenang: Bangka Belitung.
Seorang pengacara profesional di Negeri Serumpun Sebalai ini, lewat pemberitaan media nasional, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai politik pecah belah yang dibungkus seolah-olah sebagai persoalan hukum. Isunya sensitif. Menyangkut seorang pejabat tinggi daerah. Menyangkut wibawa pemerintahan. Menyangkut persepsi publik. Dan, lebih dari itu, menyangkut suasana batin masyarakat.
Saya tidak ingin masuk terlalu dalam ke substansi perkara. Bukan itu yang menarik perhatian saya. Yang membuat saya berhenti sejenak justru pesan moral di balik pernyataan itu: bahwa di tengah ketenangan yang telah kita rawat bertahun-tahun, selalu saja ada potensi retak dan rapuh jika kita lengah. Karenanya Ini nampak akan lebih dekat kepada kewaspadaan
Bangka Belitung, dalam ingatan banyak orang, adalah negeri yang ramah. Negeri yang tidak mudah panas. Tenang dan adem ayem. Negeri yang warganya terbiasa menyelesaikan urusan dengan kepala dingin. Kita boleh berbeda pandangan, berbeda kepentingan, bahkan berbeda pilihan politik.
Tetapi perbedaan seperti itu di sini jarang sekali berubah menjadi luka sosial yang dalam. Kita berdebat, lalu kembali ngopi di warung yang sama. Kita bersilang pendapat, lalu saling sapa di pasar. Atau nonton bola bersama. Begitulah kira kira etika sosial yang selama ini bekerja tanpa harus dideklarasikan.
Namun, dunia nampaknya mulai berubah. Pola bergeser. Cara orang bertikai juga berubah. Dahulu konflik tampak jelas wajahnya. Sekarang ia bersembunyi di balik judul-judul berita. Ia menyamar seolah olah sebagai kepedulian. Ia tampil terkadang sebagai seolah-olah pembelaan hukum.
Ia menggunakan bahasa yang terdengar cerdas, legal, dan terkesan objektif. Padahal di balik itu, bisa saja ada skenario penggiringan persepsi, pembentukan opini, bahkan rekayasa kebencian yang halus. Di sinilah politik pecah belah menemukan identitas dan baju barunya.
Tentu kita paham, dalam dunia profesi apapun di muka bumi ini, termasuk profesi pengacara bahwa strategi adalah keniscayaan. Setiap pihak berhak membela kepentingannya. Setiap orang bebas memilih cara untuk bertahan, menyerang, atau melindungi diri. Bahkan berkolaborasi dengan siapapun. Dalam batas hukum, strategi apa pun tentulah sah-sah saja.
Tetapi masalahnya bukan sekadar soal sah atau tidak sah menurut hukum. Persoalannya adalah tentang etika publik. Soal dampak sosial. Tentang suasana kebatinan masyarakat. Tidak semua yang legal itu layak. Tidak semua yang sah itu pantas. Tidak semua yang benar secara prosedural itu bijak secara sosial.
Di titik inilah Bangka Belitung memiliki kekhasan. Masyarakat di negeri ini tidak hanya menilai sesuatu dari kacamata hukum, tetapi juga dari kacamata kepantasan. Dari rasa. Dari kepatutan. Dari apa yang dalam bahasa orang tua dulu disebut sebagai “tenggang rasa”.
Orang boleh menang perkara. Tapi jangan sampai kalah di mata masyarakat. Orang boleh cerdas berstrategi. Tapi jangan sampai merusak kepercayaan sosial yang telah lama dibangun.
Karena kepercayaan itu mahal. Ia tidak bisa dibeli dengan pencitraan. Ia tidak bisa dibangun dalam satu musim pemilu. Ia tumbuh perlahan, lewat pergaulan, lewat keteladanan, lewat konsistensi sikap. Dan Bangka Belitung selama ini hidup dari modal sosial seperti itu.
Ada satu hal yang menarik untuk direnungkan. Banyak kegaduhan di daerah sering kali tidak lahir dari rahim kebudayaan lokal itu sendiri. Ia datang bersama orang-orang yang baru masuk. Atau orang-orang yang lama merantau, lalu pulang dengan membawa cara bertarung dan bertanding dari tempat dan kota lain. Boleh jadi itu karena ia lupa akan akar budayanya. Seperti kacang lupa kulitnya. Atau ia yang terlalu bersemangat mencari panggung yang jadi jalan pintas untuk tersohor dan terkenal.
Tidak salah membawa pengalaman setelah berkelana ke luar daerah. Tidak pula keliru membawa pengetahuan. Tetapi ia akan menjadi masalah ketika seseorang memaksakan seluruh pola konflik dari luar untuk diterapkan mentah-mentah di Bangka Belitung.
Di luar sana, mungkin konflik adalah makan siang harian. Di luar sana, mungkin teriakan adalah bahasa yang biasa. Di luar sana, mungkin menyerang lawan di ruang publik adalah kebiasaan. Tapi di sini, cara-cara semacam itu sering terasa asing bahkan aneh. Batin kita belum rela menerimanya karena ia masih terasa terlalu kasar. Kurang beradab serta terasa terlalu gaduh.
Ketika orang luar memaksakan iramanya, maka masyarakat lokal akan mengalami kegamangan. Bingung. Gelisah. Seolah-olah ada yang tidak pas, tetapi sulit dijelaskan dengan kata-kata. Terasa ada tapi tak terlihat nyata. Dan kegamangan itulah yang menjadi pintu masuk bagi politik pecah belah.
Karena masyarakat yang gelisah adalah masyarakat yang mudah disulut. Ibarat ilalang kering dimusim kemarau. Masyarakat yang bingung adalah masyarakat yang mudah diarahkan. Masyarakat yang lelah adalah masyarakat yang mudah diadu.
Media, Isu, dan Sutradara di Balik Layar
Di titik inilah peran media menjadi sangat menentukan. Media tidak lagi sekadar penyampai informasi. Ia adalah pembentuk realitas. Ia adalah panggung dan amplifikasi. Ia adalah pengeras suara. Ia bahkan, dalam banyak kasus, seolah olah menjadi senjata.
Masalahnya, tidak semua yang tampil di media lahir secara alami. Banyak isu hari ini tidak tumbuh dari kegelisahan publik, melainkan ditanam dengan sengaja. Dirancang. Diatur momentumnya. Diperkuat dengan narasi tertentu. Dikutip oleh media yang sama berulang-ulang, seakan-akan itu adalah suara mayoritas.
