Oleh: Pak Mo, Ketua Majelis Adat dan Budaya Melayu Kabupaten Bangka

Tahun 1997, untuk kali pertama Kabupaten Bangka mendapatkan predikat sebagai salah satu kota kecil  terbersih se Indonesia ditandai dengan penganugrahan piala Adipura. Prestasi ini tidaklah main-main dan memiliki pristise yang cukup tinggi.

Piala Adipura diterima Kabupaten Bangka dengan penuh suka cita. Penyambutan piala tersebut diwarnai dengan arak-arakan mulai dari saat turunnya dari Bandara Pangkalpinang di Kecamatan Pangkalan Baru ketika itu.

Kegembiraan dan kebanggan dengan diterimanya piala Adipura sebagai lambang  kota terbersih se-Indonesia adalah suatu prestasi yang tidak dapat dipungkiri. Suka cita sebagai sebuah perwujudan dari sebuah prestasi sebagai salah satu upaya pemerintah daerah untuk menanamkan  kesadaran akan nilai-nilai kebesihan dalam kehidupan keseharian masyarakat Sungailiat sebagai ibu kota Kabupaten Bangka.

Semboyan yang ditanamkan yaitu “Berteman” yang merupakan akronim dari “Bersih, Tertib dan Aman”. Semboyan ini cukup sederhana tapi lugas dan mencakup berbagai aspek filosofis  dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam tata kelola Pemerintahan Daerah.

Sungailiat sebagai Kota Berteman pun pada gilirannya menggema se Propinsi Sumatera Selatan karena memang Kabupaten Bangka adalah salah satu bagian dari administrative Sumatera Selatan. Terlebih lagi dengan keindahan pantai – pantai yang ada di Kabupaten Bangka.

Khususnya di Sungailiat ketika itu berdirilah sebuah Cottage dengan predikat bintang lima di hamparan pantai Parai Tenggiri (dulunya Hakok), sehingga menjadikan Kabupaten Bangka sebagai Daerah Tujuan andalan di Provinsi Sumatera Selatan dan Tujuam Wisata ke 17 di Indonesia.

Baca Juga  Tak hanya Ayahnya, Remaja 12 Tahun di Sungailiat Juga Ikut Tersambar Petir, Kini Dilarikan ke Rumah Sakit

Parai Tenggiri telah pula menjadi icon wisata yang cukup pupuler di kalangan wisatawan dalan  negeri maupun manca negara seiring dengan gencarnya promosi wisata yang dilakukan  oleh ownernya yaitu Jhoni Sugiarto.

Tidak pula terlalu berlebihan, setiap tamu yang datang ke Kabupaten Bangka, Sungailiat sebagai ibu kota memang menampakkan wajah yang betul-betul “Berteman” yaitu Bersih Tertib dan Aman.

Sementara itu keindahan dan panorama pantainya memang bukan sekedar ungkapan semata. Bibir pantainya berhias pasir putih bersih sehingga begitu kontras dengan biru jernih air laut yang terkadang berbentur dan beriak halus  dengan barisan batu granit yang telah tersusun artistik oleh kehendak alam.

Konsitensi

Adalah sosok seorang Bupati ketika itu Kolonel Bustan Halik, yang tetap konsisten untuk menerapkan motto berteman yang telah lebih dulu ditanamkan oleh Kepala Daerah sebelumnya, Letkol R. Haryono.

Berteman bukanlah slogan politik, tetapi merupakan sebuah motto yang menggambarkan kepribadian masyarakat Sungailiat yang menanamkan nilai – nilai kebersihan dalam berbagai aspek kegidupan bermasyarakat, keramah tamahan, ketertiban dengan pola hidup yang menjunjung tinggi kegotong royongan serta senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban  dalam setiap kesempatan.

Hal itu dapat dilihat dari tingkat kriminalitas yang cukup rendah. Jarang terdengar keributan antar warga. Kendaraan seperti motor tergeletak begitu saja di depan-depan rumah dan teras rumah warga tanpa ada yang kehilangan. Indah, sejuk dan tentram.

Baca Juga  THR, Kompensasi yang Tak Memberi Arti

Keberlanjutan  atas penerapan motto berteman yang dilakukan oleh pemimpin daerah ketika itu memang betul-betul merasuki setiap denyut nadi warga Sungailiat. Betapa tidak Bustan Halik yang merupakan sosok Bupati Kepala Daerah begitu  keukeh dalam menerapkan disiplin baik kepada warga masyarakat maupun di kalangan birokrat.

Tidak jarang beliau pada waktu pagi hari belusukan ke gang-gang dan pekarangan rumah warga untuk memantau kondisi lingkungan setempat, sementara bagi warga yang belum kenal dan akrab kepada beliau sebagai Bupati merasa terheran-heran dan menggelitik pertanyaan.

Di kalangan birokrat beliau selalu memperhatikan etos kerja yang tinggi, disiplin terhadap  waktu dan tegas dalam menggunakan pakaian  seragam pegawai. Mulai dari baju sampai ke sepatu. Bahkan ajudannya sekalipun tidak jarang mendapatkan teguran dan hukuman dengan sanksi harus berjemur di halaman kantor sambil hormat kepada bendera merah putih karena sesuatu dan lain hal.

Motto Sungailiat Kota Berteman telah pula menjadi akrab di pendengaran para siswa mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Tidak hanya sekedar mendengar namun sudah menjadi bagian keseharian dalam aktivitas belajar dan mengajar. Nilai berteman sudah menjadi tradisi di sekolah-sekolah.

Mulai dari pasar sudut-sudut kota, sekolah bahkan pada kendaraan ditempel stiker Berteman. Ketika kita akan memasuki Kota Sungailiat dari arah Pangkalpinang, kita tak luput membaca  tulisan “ SUNGAILIAT KOTA BERTEMAN yang terpampang besar dan  tegap di samping jembatan Pepabri. Namun sayangnya tulisan sebagai pesan dan informasi kepada siapapun yang berkunjung ke Sungailiat, kini telah hilang dari pandangan mata. Mungkin dianggap motto tersebut tidak cukup keren dan usang.

Baca Juga  Kejati Babel Tangkap Buronan Pencurian di Sri Menanti Sungailiat  

HUT ke-259 Kota Sungailiat 

Hari jadi atau hari lahirnya Kota Sungailiat ditetapkan berdasarkan rapat Tim tanggal 13 Juni 1995 serta hasil seminar lokakarya dan expose tentang hari jadi / lahir Kota Sungailiat oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bangka pada tanggal 20 November 1995 dan tanggal 15 Januari 1996.

Disamping itu pula dengan mempedomani hasil rumusan akhir dari tim perumus yang telah mendapatkan masukan dan tanggapan baik melalui media massa atau tanggapan langsung dari tokoh masyarakat dan pemuka adat atau nara sumber lainnya terutama yang bersifat ilmiah dan didukung oleh berbagai data dan dengan pembuktian ilmiah maka tim merumuskan dan menetapkan bahwa hari jadi / hari lahir Kota Sungailiat jatuh pada tanggal 7 Rabiulawal tahun 1186 H atau bertepatan dengan tanggal 27 April 1766 M.

Hal itu didasarkan sejak ditetapkannya kampung atau dusun Liat menjadi Pangkal Liat oleh Tumenggung Dita Menggala guna diperuntukkan sebagai tempat kedudukan Demang yang diangkat oleh Sultan Ahmad Nadjamuddin dari Kesultanan Palembang Darusallam yaitu tanggal 7 Rabiulawal 1186 H atau bertepatan dengan tanggal 27 April 1766.