Tanggal 27 April 2025, Sungailiat akan memperingati Hari Ulang Tahunnya yang ke 259 tahun. Sejak kepindahan dari Pangkalpinang sebagai Ibu Kota Kabupaten pada 13 Mei 1971 berarti sudah 54 tahun yang lalu. Tentunya kita bisa melihat dari decade ke decade bagaimana kondisi dan perkembangan Sungailiat sebagai Ibu Kota Kabupaten.

Terjadinya perubahan adalah suatu keniscayaan. Perubahan yang dirasakan seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman. Dan itu patut masyarakat Sungailiat mensyukurinya. Perjalanan panjang yang terus melangkah dan menuai perubahan seiring dengan terbentuknya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dari 13 Kecamatan menjadi 8 Kecamatan termasuk terbentuknya Kecamatan  pemekaran seperti Bakam, Puding Besar, Pemali dan Riau Silip yang sebelumnya berstatus sebagai Kecamatan Pembantu.

Pada periode tahun 1988 sampai dengan 1993 di masa kepemimpinan Bupati Bangka Letkol R. Haryono nilai-nilai filosofis dalam kehidupan masyarakat Sungailiat  mulai diletakkan.

Dengan motto  Sungailiat sebagai “Kota Berteman”. Nilai-nilai filosofis tersebut hingga dikutip dalam sebuah lagu daerah dengan Judul “Ngumpol – ngumpol”  yang diciptakan seniman kondang Kabupaten Bangka ketika itu Bung Parlin Hutagalung. Lagu daerah ini sempat populer di blantika musik daerah Bangka.

Bahkan dalam setiap iven seni dan budaya lagu ini kerap dilantunkan oleh penyanyi remaja saat itu seperti wanda Sona Alham dan Merry.  Lagu ini untuk pertama sekali di lantunkan dalam ivent Festival Sriwijaya tahun 1992 oleh penyayi cilik Wanda Sona dan meraih juara pertama. Banyak di ivent-ivent bergengsi yang  lain lagu ngumpol-ngumpol menguasai panggung dan meraih prestasi terbaik pertama. Hebat dan tidak ada negosiasi.

Baca Juga  Belajar dari Fenomena Kemenangan Kotak Kosong Pilkada Serentak 2024

Potongan bait dari lagu Ngumpol-ngumpol tersebut berbunyi “ kite jage bersame, semboyan negeri kite, Berteman bersih, tertib dan aman”. Wajar saja lagu ini enak didengar di telinga karena irama musiknya yang ceria sekaligus bait-bait syairnya juga menggambarkan nilai  kegotong royongan masyarakat Bangka secara umum dengan tradisi Sepintu Sedulang, menginformasikan tentang indahnya objek-objek wisata yang ada serta keramah tamahan warganya yang selalu menjaga sopan santun.

Dalam kondisi keuangan daerah yang tidak baik-baik saja, tanggal 27 April 2025 kita akan memperingati sekaligus merayakan hari jadi Kota Sungailiat tercinta ditandai dengan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Bangka, Acara Nganggung bersama dan ceramah agama dalam upaya memberikan siraman rohani kepada masyarakat serta para ASN di jajaran Pemkab Bangka.

Tidak banyak memang ivent-iven lain yang digelar mengingat kemampuan anggaran serta kondisi perekonomian Bangka Belitung secara umum yang juga dalam posisi pertumbuhan ekonominya yang masih terseok-seok.

Namun, sebagaimana yang disampaikan DR. Yan Megawandi dalam sebuah artikelnya mengatakan bahwa peringatan HUT Kota Sungailiat ini bukan hanya sekedar menyajikan kemeriahan, tetapi lebih dari itu apa dan bagaimana arah dan tujuan yang hendak digapai.

Akankah nilai-nilai filosofis dalam motto Sungailiat sebagai Kota Berteman masih akan tetap kita pertahankan dalam setiaptarikan nafas,  jiwa dan raga warga masyarakat Kota Sungailiat?

Baca Juga  Limitasi Kewenangan Bawaslu dalam Penanganan Pelanggaran pasca Penetapan Hasil Pemilu (2)

Produksi sampah dari hasil rumah tangga yang setiap harinya mencapai angka di atas 60 tonakan  dapat diatasi dengan kondisi fasilitas dan armada Pasukan Kuning yang dewasa ini terkendala dengan anggaran yang minim. Apakah TPA sampah yang ada selama ini bisa menghasilkan produk – produk lanjutan dari pengelolaan limbah sampah  yang ada?

Dan tentunya yang paling mendasar untuk dipertanyakan apakah warga Kota Sungailiat semakin tertib dan patuh akan membuang sampah pada tempatnya, membuang sampah yang sudah dipilah sesuai dengan bahannya?

Dari fakta di lapangan yang kita lihat nampaknya kesadaran dan kepatuhan itu sepertinya semakin hari semakin tergerus dari tujuan motto Sungailiat Kota Berteman.

Budaya buruk membuang sampah bekas makanan dari dalam mobil ke jalan raya sepertinya menjadi hal biasa dalam pandangan mata. Berbagai jenis sampah tersebar di atas rerumputan di pinggir-pinggir jalan raya. Sebagian sudah tertutup oleh rimbunya rumput-rumput liar.

Anak-anak Sekolah Dasar bahkan sampai SLTA tidak lagi kenal, tahu dan faham dengan motto atau slogan kotanya. Tulisan-tulisan yang menyampaikan pesan bahwa Sungailiat sebagai Kota Bertemanpun tak pernah lagi terbaca.

Kota Sungailiat sebagai Ibu Kota Kabupaten Bangka belum menampakkan kekhasan tersendiri yang memberikan warna  dari kehidupan sosial ekonomi dan budaya warganya. Sungailiat sebagai kota Budaya dan Pendidikan yang pernah didengungkan juga belum dapat menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.

Dari perspektif Budaya Melayu pun Sungailiat belum sama sekali mencerminkan suasana yang semestinya. Arsitektur bangunan perkantoran jauh dari nuansa melayu, begitu pula dengan  gerbang selamat datang yang dibangun belum menampakkan keunikan adat istiadat dan budaya lokal. Singkat kata  belum menampilkan dan sekaligus belum memiliki jati diri.

Baca Juga  Tren Kesenjangan Sosial dan Realita di Bangka Belitung: Sistem yang Timpang, Tersesat di Lubang Tambang

Masih banyak memang pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Sebagai Kabupaten tertua, Kabupaten Bangka masih banyak yang harus dibenahi. Di sisi lain Lambang Daerah dengan semboyan Sepintu Sedulang yang tidak relevan lagi dengan kondisi Kabupaten Bangka setelah terjadinya pemekaran kabupaten yang lainnya. Sampai hari ini belum ada keinginan untuk merubah dan menyesuaikan lambang daerah tersebut.

Cukupkah dengan tema yang dibuat setiap tahunnya dalam setiap memperingati hari jadi Kota Sungailiat dapat menggugah dan memberikan semangat warganya akan nilai-nilai sejati Motto berteman? Sementara  banyak kasus ditemuinya lampu-lampu penerangan jalan, taman-taman raib oleh tanggal jahil yang tak faham akan makna Berteman.

Padahal menjaga marwah Berteman tidak mesti harus bersusah payah dengan tenaga, tetapi cukuplah untuk tidak menganggu dan merusak kondisi yang ada.

Sudah kali ke sebelas Sungailiat merima penghargaan sebagai kota kecil terbersih se Indonesi dengan piala Adipuranya. Apakah dengan diterimanya piala tersebut sudah mencerminkan semangat Berteman bagi warganya? Jawabannya cukup sederhana, “lihat saja kenyataan yang ada”.

(Tulisan ini dibuat sebagai kilas balik untuk sebuah renungan dan  membangkitkan kembali semangat akan Berteman, Bersih Tertib dan Aman)