Di sisi lain, salah satu modal terpenting dari membangun sebuah destinasi yang berdaya saing adalah kreativititas. Ada sebuah desa wisata tanpa atraksi alam di wilayah Jogjakarta yang sudah sangat terkenal, yaitu Pentingsari. Atraksi wisata alam yang diunggulkan jaraknya sekitar 12 km dari desa yaitu puncak Gunung Merapi dan membutuhkan waktu sekitar 10 jam berjalan kaki.

Puncak gunung yang awalnya hanya diminati pecinta alam ini dilihat sebagai peluang. Dengan kreativitas, keuletan, dan istikamah, yang dibangun oleh warga adalah homestay, sebelum akhirnya berbagai atraksi digali dan diciptakan oleh mereka. Sekarang desa ini menjadi rujukan bagi desa-desa yang ingin membangun desa wisata. Ini adalah cerita dari sebuah desa yang dibangun dan dirintis oleh masyarakat.

Baca Juga  Kegiatan Positif Seperti Liburan Cocok Untuk Saat Ini, Zodiak Aries Hari Ini

Ada satu cerita menarik tentang membangun destinasi pariwisata dari sebuah kota di Jepang, yaitu Yubari. Yubari sering menjadi contoh kasus kota bangkrut karena jor-joran membangun infrastruktur dan fasilitas agar bisa menjadi destinasi wisata olah raga ski.

Ketika itu, Pemerintah Kota Yubari meminjam uang sebanyak ¥35,5 milyar atau 315 juta US dolar untuk bertransformasi dari tutupnya pertambangan batu bara di wilayah itu sebelum dinyatakan bangkrut pada tahun 2007. Berbagai layanan umum kota harus dihentikan. Kota ini akhirnya bertahan dengan melon Yubari King yang secara eksklusif hanya boleh ditanam di sana.

Beberapa desa atau destinasi wisata yang bertahan di Bangka Belitung merupakan destinasi yang berkembang dari inisiasi masyarakat. Biasanya, selalu saja ada “orang gila” yang berhati baja di sana. Mereka tidak sekedar ikut-ikutan tren yang sedang berkembang, tetapi juga terus berkreasi sambil membangun jaringan.

Baca Juga  Bundaran Satam

Apakah destinasi yang berbasis masyarakat selalu berkelanjutan? Ternyata tidak juga. Banyak destinasi yang cukup lama berkembang dengan baik, tiba-tiba atau lambat laun runtuh karena orang gila di sana harus pergi, entah itu pergi menjadi nara sumber di mana-mana sehingga sudah tidak punya waktu lagi, ataupun pergi selamanya. Karena itulah, manajemen yang baik serta transformasi kepemimpinan menjadi krusial pula. Hal yang sama juga berlaku pada atraksi yang dikembangkan swasta maupun pemerintah.

Ada kalimat penting yang diucapkan Asror, penggiat Pokdakan di Desa Dendang Belitung Timur, yang kelompoknya sudah mendapat beberapa penghargaan nasional: “Kami ini bukan superman, jadi kami tidak bisa bekerja sendiri”, katanya sambil menyilakan Pak Kades dan rekan-rekannya mempresentasikan hasil kerja mereka ketika kami berkunjung ke desa mereka.

Baca Juga  Jejak Angin di Halaman Waktu: Ziarah Batin Pertemuan Tanah Kelahiran dan Perantauan

Ternyata, tidak cukup hanya dengan menjadi “gila” atau out of the box. Tapi juga harus rendah hati, bisa bekerja sama, dan istikamah, alias pantang mundur. Kalau tidak begitu, mana bisa menggali tambang tumbuh semangka.

Tidak mudah memang. Meski demikian, agar makin banyak orang-orang seperti itu, mari kita setidaknya ikut bersemangat bersama orang-orang “gila” yang istikamah ini, agar mereka pun semakin bertumbuh di Bumi Serumpun Sebalai yang mau tidak mau harus berubah menjadi lebih baik.

Selamat menyambut Hari Bumi 2026!