Ketika Tunas Sastra Tumbuh di Ajang FLS3N
Oleh: Iyek Aghnia — Penulis yang Tinggal di Toboali
“Sembilan belas, Pak,” ungkap Khoiriah Apriza saat penulis menanyakan jumlah cerpen yang ikut lomba menulis cerpen pada ajang FLS3N tingkat Kabupaten Bangka Selatan Rabu (22/4) lalu.
” ow…keren. Mantap,” ucap penulis. “Luar biase pelajar Bangka Selatan,” sambung Kulul.
Tumpukan naskah cerpen menumpuk. Tersusun rapi.
Penulis bersama dedengkot literasi Bangka Selatan Kulul dan cerpenis muda Khoiriah Apriza diberi kepercayaan oleh panitia pelaksana FLS3N tingkat Kabupaten Bangka menjadi penilai lomba menulis cerpen.
Dan kali ini jumlah peserta menulis cerpen FLS3N tingkat Kabupaten Bangka Selatan adalah yang terbanyak dalam tiga tahun terakhir.
Biasanya sekitar 10-an. Ini membanggakan. Patut kita syukuri. Walaupun sebenarnya cerpenis dari kalangan pelajar Bangka Selatan bukanlah sesuatu yang baru.
Banyak penulis cerpen Bangka Selatan berangkat dari institusi pendidikan. Di antaranya Khoiriah Apriza yang menjadi juri lomba menulis cerita pendek FLS3N Bangka Selatan.
Mahasiswi sebuah universitas ini saat masih berseragam putih abu telah memulai menulis cerpen. Bahkan melahirkan buku kumpulan cerpen.
Demikian pula dengan penulis muda Putri Rahmawati. Mahasiswi ini memulai menulis beragam tulisan dari sekolah. Tak terkecuali cerpen. Dari ruang kelas SMAN 1 Simpang Rimba.
