Ketika Tunas Sastra Tumbuh di Ajang FLS3N
Nama lain yang bisa disebut adalah Musda Quratul Aini. Mahasiswi ini malah telah memulai menulis cerpen saat masih menuntut ilmu di Sekolah Menengah Pertama (SMPN). Buku kumpulan cerpennya DISLEKSIA seolah menjadi pioner kelahiran buku dari penulis pelajar.
Setiap institusi pendidikan di Bangka Selatan memiliki penulis. Tak terkecuali penulis sastra.
Dari SMAN 1 Toboali ada nama Karya Arnando. Ada Arsi. Ada Hikmah Tul. Lalu dari SMAN 2 Toboali ada nama Sari Andini, juara menulis cerpen FLS2N tingkat Kabupaten Bangka Selatan tahun 2024.
Sementara Tanah Pering melahirkan Maria Sareng Putri dan Saskia Puspita Sari yang merupakan bagian dari tim jurnalistik SMAN 1 Payung kala itu. Kini mereka telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi baik di Bangka Belitung maupun di luar Babel.
Karya mereka menghiasi ruang-ruang sastra media massa. Ini yang membahagiakan kita sebagai warga Bangka Selatan.
Yang paling penting untuk dipahami para pelajar bahwa kegiatan menulis itu keren. Memiliki karya tulis itu sebuah kebanggaan dan sangat pantas dibanggakan. Lewat tulisan itulah warisan pemikir zaman dahulu bisa sampai ke generasi berikutnya.
Dan dari ajang kompetisi lomba menulis cerpen FLS3N tahun ini, telah lahir penulis-penulis muda dari kalangan pelajar Bangka Selatan. Ini membanggakan.
Kami bertiga sebagai penilai harus memberikan penilaian. Sementara suara azan Zuhur telah terdengar dengan religius. Suara nyanyian dari perut mulai terdengar. Tangan Kulul dan Khoiriah terus bergerak di form penilaian.
Selamat datang penulis cerita pendek dari kaum pelajar. Hiasi dunia sastra dengan karya hebat kalian. Warnai dunia literasi Bangka Selatan dan Bangka Belitung dengan tulisan hebat kalian.
Salam literasi.
