Perkataan pegawai barusan sedikit membuka harapan Warisan.

“Apakah bisa begitu ya, Pak?”

Dengan sedikit rasa takut dan gugup, Warisan bertanya kepada pegawai itu.

“Kita berdoa saja Pak, ya!”

Warisan tidak mempunyai pertanyaan lagi atau lebih tepatnya sudah siap menerima apapun keputusan pemerintah nantinya, sehingga ia pun berpamitan untuk pulang dan segera memberikan kabar kepada sang istri.

Selama dalam perjalanan pulang Warisan terus berdoa agar ia dan istri bisa berangkat haji sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya.

*****

“Alhamdulillah.”

Teriak Warisan dengan lantang. Matanya masih terpejam dengan posisi tubuh masih terbaring di lantai.

Sang istri yang juga tertidur di sebalahnya, mendadak terbangun karena mendengar teriakan suaminya itu.

“Pak…Pak….bangun”

Sang istri menggoyang tubuh suaminya yang masih tertidur, namun wajahnya menampaknya raut bahagia. Walau masih tertidur bibir Warisan tersenyum.

Sudah berkali-kali sang istri membangunkan Warisan, namun belum juga tersadar. Mulut Warisan terus mengucapkan kalimat syukur itu.

Baca Juga  Penguasa Plafon

Setelah meresa belum mampu membangunkan dengan cara digoyang, akhirnya sang istri dengan terpaksa memukul pipi Warisan dengan sekuat tenaga.

“Astaghfirullah.”

Sekarang kalimat itu yang keluar dari bibir Warisan, setelah ia terbangun oleh pukulan di pipinya.

“Ada apa, Bu?”

“Bapak yang ada apa?

Sang istri balik bertanya.

“Ya….Allah ternyata hanya mimpi.”

Warisan baru sadar bahwa ia barusan bermimpi.

“Memang Bapak mimpi apa?”

Sang istri jadi penasaran.

“Bapak mimpi sangat indah bu.”

“Mimpi kawin lagi ya, istri barunya lebih cantik dari ibu, dan….”

“husst…Ibu jangan sembarangan.”

Warisan memotong omongan istrinya yang terlihat penuh dengan kecemburuan.

“Tadi bapak bermimpi, kita sudah di tanah suci, Bu.”

“Pantas tadi bapak selalu mengucapkan hamdalah.”

Sang istri sudah mulai tenang dan tampak tidak cemburu lagi.

“Mudah-mudahan ini bertanda baik ya, Pak”

Baca Juga  Topeng Senyum di Keramaian

“Iya Bu”

“Ya sudah kita tidur lagi, Pak”

*****

Pagi-pagi betul Warisan dan istri sudah berada di bandara. Mereka bergegas karena tidak ingin ketinggalan momen bersejarah. Tidak berapa lama terlihat beberapa bus besar menuju ke bandara. Di badan bus itu tertulis jemaah haji Indonesia. Warisan dan istri berkaca-kaca melihat armada yang memang disiapkan untuk jemaah haji itu. Mereka sedih dan terharu ketika menyapa para penumpang yang ada di dalam bus.

Hari itu Warisan dan istri harus ikhlas jatah mereka diberikan kepada tetangga mereka yang ada di dalam bus tersebut. Mereka harus tetap bersabar menunggu jadwal keberangkatan yang entah kapan bisa terwujud. Harapan mereka untuk berangkat sesuai jadwal pupus sudah seiring dengan diberlakukannya war tiket  bagi jemaah haji. Padahal jika menurut jadwal semula, tetangga mereka yang sekarang berada dalam bus dan siap berangkat itu masih jauh di bawah mereka, namun karena diterapkannya regulasi baru dan tetangga mereka itu orang kaya, maka mereka yang berangkat lebih dahulu.

Baca Juga  Sepatu tanpa Tali

Kini Warisan dan istri hanya bisa memendam keinginan mereka. Mimpi Warisan yang sudah datang ke tanah suci beberapa hari yang lalu ternyata memang hanya mimpi. Mimpi untuk hadir langsung di depan kakbah sementara waktu harus dipendam Warisan dan istri. Mimpi yang entah kapan bisa terwujud, mungkin sampai ganti pimpinan baru yang memimpin negeri ini atau mungkin sampai mereka dipanggil sang pencipta mimpi itu tidak akan terwujud.

*****

Bionarasi Penulis

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang tinggal di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]