Integrasi Identitas “Negeri Serumpun Sebalai” dalam Pengembangan Bandara Depati Amir sebagai Model Infrastruktur Berkelanjutan
Lebih lanjut, dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 39 Tahun 2019 Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional Pasal 4 [g] mewujudkan kesatuan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan, dalam rangka mempersatukan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan landasan tersebut, penerapan konsep local genius melalui adaptasi atap limas, kisi dulang, dan material tempelan granit Bangka Belitung pada terminal Bandara Depati Amir merupakan bentuk ketaatan terhadap regulasi.
Urgensinya menjadi semakin relevan mengingat rencana pengembangan bandara fase berikutnya. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memastikan bahwa investasi miliaran rupiah tidak hanya menghasilkan terminal yang fungsional, tetapi juga menjadi etalase kebudayaan “Negeri Serumpun Sebalai” dan penggerak ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejatinya memiliki kekayaan arsitektur vernakular yang dapat menjadi sumber inspirasi.
Sebut saja Rumah Panggung Melayu, atap limas, ukiran kayu, dulang, ragam hias replika daun simpur, replika junjung lada, batik cual, dan lainnya. Warisan desain ini belum direpresentasikan secara optimal di terminal Bandara Depati Amir. Padahal, integrasi unsur tersebut berpotensi memperkuat destinasi branding daerah. Penerapan arsitektur lokal tidak seharusnya dimaknai sebagai penambahan ornamen semata. Kearifan lokal terdapat pada filosofi dan kinerja bangunan dalam merespons iklim serta konteks sosial. Sebagai ilustrasi, di Bangka Belitung bangunan tradisional dibangun tinggi untuk mengantisipasi banjir rob, memberikan sirkulasi udara, serta menciptakan ruang komunal di area pesisir.
Atap Limas dengan kemiringan tajam memungkinkan air hujan mengalir cepat dan menjebak udara panas di bagian bubungan, sehingga ruang di bawahnya tetap sejuk secara alami. Dinding kisi-kisi kayu berfungsi sebagai sistem ventilasi silang. Prinsip-prinsip passive design ini sangat relevan untuk diterapkan pada bangunan publik modern dalam rangka efisiensi energi. Jika diadaptasi, fasad airside Bandara Depati Amir dapat menggunakan sistem double skin yang terinspirasi dari kisi-kisi Rumah Panggung. Sistem ini membantu mengurangi beban pendingin ruangan secara signifikan.
Desain atap terminal juga dapat mengadopsi geometri Atap Limas yang dimodernisasi, lengkap dengan skylight untuk pencahayaan alami. Dengan demikian, curah hujan tinggi tidak lagi menjadi tantangan teknis, melainkan dapat menjadi elemen estetika bangunan. Bangka Belitung memiliki potensi material lokal seperti timah, kaolin, granit, dan kayu. Saat ini, sebagian besar material terminal masih menggunakan produk dari luar daerah.
Padahal, terdapat peluang untuk membuat dan menggunakan keramik berbahan kaolin untuk lantai, panel granit Bangka Belitung untuk dinding, serta instalasi seni dari timah daur ulang pada area check-in. Langkah ini memiliki dua manfaat utama. Pertama, setiap material akan menceritakan kekayaan alam dan industri Bangka Belitung kepada pengunjung. Kedua, belanja proyek dapat memberikan dampak ekonomi langsung kepada pelaku UMKM dan industri lokal.
Dengan demikian, bandara tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kreatif daerah. Area landside Bandara Depati Amir memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Konsep edutainment landscape dapat diterapkan, misalnya dengan menghadirkan kebun lada mini lengkap dengan informasi sejarahnya, replika tungku peleburan timah tradisional, atau taman dengan vegetasi khas pesisir.
Oleh karena itu, waktu tunggu para penjemput dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi. Anak-anak dan generasi muda dapat belajar mengenai sejarah dan identitas Bangka Belitung secara langsung di ruang publik. Bandara pun bertransformasi dari sekadar ruang transit menjadi ruang pengenalan budaya yang pertama dan berkesan. Penting untuk digaris bawahi bahwa integrasi kearifan lokal tetap harus sejalan dengan standar keselamatan dan keamanan penerbangan nasional maupun internasional (CASR 139 dan ICAO).
Berbagai bandara dunia seperti Changi dengan Jewel dan Incheon dengan museum budayanya telah membuktikan bahwa modernisasi dan akar budaya dapat berjalan beriringan, asalkan direncanakan sejak tahap awal masterplan, atau pengembangan. Rencana pengembangan Bandara Depati Amir ke depan, termasuk perpanjangan runway dan terminal, merupakan momentum yang tepat untuk mengimplementasikan amanat tersebut.
Pelibatan arsitek lokal, budayawan, dan pemangku adat sejak tahap perencanaan awal akan sangat membantu mewujudkan hal ini. Pada dasarnya, bandara adalah wajah depan sebuah daerah. Jika laut diibaratkan sebagai halaman depan Bangka Belitung, maka Bandara Depati Amir adalah pintu utama rumah kita. Sudah sepatutnya pintu tersebut mencerminkan jati diri tuan rumahnya, yaitu nilai-nilai identitas, arsitektur, dan ornamen kearifan lokal ramah menyapa setiap tamu yang datang.
