Bersama Menguatkan Identitas Serumpun Sebalai di Meja Pembangunan
Mengalirkan nilai ke anggaran, jika identitas adalah pelita, maka anggaran adalah minyaknya. Pelita tidak akan menyala terang tanpa dukungan yang cukup. Karena itu, kita bisa bersama-sama melihat APBD sebagai cermin. Bukan untuk mencari kekurangan, tetapi untuk menemukan peluang penguatan. Misalnya, kita dapat mendorong agar alokasi untuk pendataan budaya, pelatihan pengrajin, UMKM, dan fasilitasi sanggar seni semakin proporsional. Ini adalah investasi agar Serumpun tidak hanya diingat, tetapi juga dihidupi.
Begitu pula dengan anggaran untuk pesisir. Selain membangun infrastruktur keras, kita bisa memperkuat nature-based solution seperti penanaman mangrove bersama masyarakat. Pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa mangrove adalah “polisi pantai” yang paling setia dan hemat biaya. Melibatkan nelayan dan berbagai kelompok dalam program ini adalah wujud nyata Sebalai.
Untuk ekonomi kreatif, ruang-ruang kolaborasi bagi anak muda adalah ikhtiar Serumpun agar tidak ada potensi yang tercecer. Ketika mereka diberi panggung di tanah kelahirannya, maka rasa cinta pada daerah akan tumbuh dengan sendirinya.
Intinya, ketika nilai Serumpun Sebalai mengalir ke APBD, maka setiap rupiah yang dibelanjakan akan memiliki dua manfaat. Manfaat membangun fisik, dan manfaat menguatkan jati diri.
Menguatkan yang sudah baik, salah satu warisan terindah dari leluhur kita adalah tradisi makan bedulang. Duduk sama rendah, berbicara sama rata, dan memutuskan bersama. Semangat musyawarah sedulang ini sudah menjadi napas dalam banyak proses perencanaan kita, seperti Musrenbang.
Ke depan, kita bisa terus menyempurnakan semangat baik ini. Caranya dengan memastikan bahwa semua kelompok warga merasa nyaman dan percaya diri untuk bersuara. Nelayan, petani lada, pengrajin, prkerja industri, guru, hingga komunitas pemuda dapat dihadirkan sejak tahap gagasan, bukan hanya saat sosialisasi akhir.
Ketika perencanaan dilakukan dengan hati sedulang, maka hasilnya akan lebih mudah diterima dan dijaga bersama. Sebab setiap orang merasa menjadi bagian dari keputusan. Inilah esensi Sebalai yang sesungguhnya sebagai rumah besar tempat semua anggota keluarga diajak bicara sebelum mengambil langkah.
Serumpun Sebalai adalah anugerah. Ia sudah menjadi filosofis baik yang kita banggakan bersama. Tugas kita hari ini adalah menyulamnya dengan lebih rapi, agar ia tidak hanya indah di spanduk, ornamen, tetapi juga hangat di kehidupan sehari-hari.
Langkahnya bisa kita mulai dari hal sederhana. Dari cara kita menyusun program, dari cara kita merancang bangunan, dari cara kita membuka ruang dialog. Pemerintah, akademisi, tokoh masyarakat, dan generasi muda dapat bergandengan tangan dalam ikhtiar ini.
Mari kita jaga Babel agar tetap menjadi rumah. Rumah yang atapnya Serumpun, tiangnya Sebalai, dan pintunya selalu terbuka untuk musyawarah. Dengan begitu, pembangunan yang kita jalankan tidak akan tercerabut dari akar. Ia akan tumbuh, berbuah, dan menaungi semua.
Sebab identitas yang dirawat bersama, akan menjadi warisan paling berharga untuk anak cucu kita. Bukan hanya bangunan yang megah, tetapi juga cerita tentang cara kita hidup rukun dan arif di tanah sendiri.
