Lesu muram wajahmu, Ibu,
Sesuram garis nasib hidupmu.
Adalah manis janji bekalmu,
Nyata mengiris pilu tubuhmu…
Mengais percaya yang kian menipis,
Mereka menabur diksi romantis.
Terbayang indah wajah nan manis,
Namun nyata… pedas dan bengis !.
Ujung harapan di pucuk duri,
Salah melangkah, kita ’kan mati…
Terhempas! jauh ke sudut tepi,
Gemuruh riuh jiwa berapi!
Rumput terinjak, mati terkapar,
Matanya nanar, hatinya memar.
Mulut terbuka, lambungmu lapar,
Di lumbung pangan yang gulung tikar…
Kami ingin merenta bersamamu, Ibu,
Bermanja temteram di pangkuanmu.
Sampai saat diambil Rabb-ku,
Dan melebur luruh di bumimu.

Toboali, 2 Mei 2026.

Baca Juga  Misi Istana Pusat: Penemuan Bukti