Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi di Yogyakarta

Ada sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Inggris yang berbunyi, “Habit is second nature”—kebiasaan adalah watak kedua. Kalimat sederhana ini menyimpan kebenaran yang mendalam: apa pun yang kita lakukan secara berulang-ulang, pada akhirnya akan mendarah daging, membentuk siapa diri kita yang sebenarnya tanpa perlu lagi berpikir panjang.

Bayangkan sebuah kebaikan kecil, sekecil menyingkirkan duri atau kerikil tajam di tengah jalan agar tak melukai orang lain. Atau sesederhana melempar senyum tulus dan mengucap salam saat berpapasan dengan sesama. Awalnya, mungkin kita perlu sedikit memaksa diri. Namun, saat hal itu dilakukan secara istikamah, ia berubah menjadi gerakan otomatis. Ia tak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai detak jantung—sebuah watak baik yang mengalir begitu saja.

Baca Juga  Mengapa Penangkapan Silfester Sangat Lambat?

Al-Qur’an dalam Surah Al-Layl ayat 5-7 telah memberikan jaminan yang indah bagi pemilik watak ini. Bagi mereka yang gemar berderma, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, Allah berjanji: “Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” Di titik inilah keajaiban terjadi; berbuat baik tidak lagi terasa berat, karena Allah sendiri yang meringankan langkah kita. Kebaikan telah menjadi “rumahnya” jiwa kita.

Namun, kita pun harus waspada terhadap sisi sebaliknya. Jika kebaikan kecil bisa membangun watak yang mulia, maka keburukan kecil yang dipelihara pun bisa membangun “watak” yang gelap. Keburukan yang diulang-ulang secara perlahan akan mematikan kompas nurani.