Puncaknya digambarkan dengan sangat getir dalam Surah Fatir ayat 8: “Maka apakah orang yang dijadikan terasa indah baginya keburukan amalnya, lalu dia menganggap keburukan itu sebagai kebaikan?”

Inilah kondisi yang paling mengkhawatirkan. Ketika kemaksiatan atau sifat kikir sudah menjadi kebiasaan, pelakunya tidak lagi merasa berdosa. Sebaliknya, ia merasa bangga dan menganggap jalannya sudah benar. Karena pilihannya sendiri untuk terus berada di jalan itu, maka Allah pun memudahkannya menuju kesukaran dan kesesatan. Ia terjebak dalam watak buruknya sendiri yang kian hari kian sulit untuk diputus.

Pada akhirnya, hidup kita adalah kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan kecil. Setiap senyum, setiap sedekah kecil, dan setiap tutur kata yang terjaga adalah investasi untuk “watak kedua” yang akan menyelamatkan kita. Sebaliknya, setiap kebencian dan keburukan yang kita biarkan tumbuh adalah kerikil yang akan menyandung kita di hari kemudian.

Baca Juga  Tetap Teguh dengan Prinsip di Dunia yang Berubah

Mari kita mulai hari ini. Bukan dengan lompatan besar yang melelahkan, tapi dengan satu kebaikan kecil yang dilakukan dengan hati yang cerah. Karena pada akhirnya, watak kita adalah penentu di jalan mana langkah kita akan berakhir: kemudahan yang bercahaya, atau kesukaran yang gulita.