Pengiyok
Sampai suatu ketika peristiwa naas itu menghantam keluarganya. Ia masih ingat betul malam itu ia dan bapaknya sedang berjalan pulang dari warung untuk membeli gula dan kopi. Namun tiba-tiba mereka mendengar sebuah teriakan wanita minta tolong dari sebuah rumah.
Demi mendengar teriakan histeris itu, bapaknya langsung spontan menuju rumah itu dan mendobrak pintu. Karena terbuat dari triplek pintu itu pun terbuka hanya dengan sekali tendangan. Begitu pintu terbuka, mereka sangat terkejut menyaksikan seorang lelaki bertelanjang dada sedang menghunus pisau yang dilumuri darah segar, sementara di lantai tergelatak sesosok tubuh lelaki dengan luka menganga dan di sisi lain terlihat seorang perempuan yang hanya mengenakan kain menutupi tubunya. Melihat kedatangan tamu tak diundang teriakan perempuan itu bertambah keras.
Dalam hitungan menit tiba-tiba warga sudah bergerombol datang ke tempat kejadian perkara. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, lelaki yang memegang pisau langsung memberikan pisaunya kepada bapak si pengiyok, mendapatkan situasi seperti itu, sang bapak pun refleks memegang pisau yang berlumuran darah tersebut. Dan dalam detik berikutnya perempuan yang tadi menjerit histeris tiba-tiba merubah perkataannya.
“Tolong! Ia sudah membunuh suamiku.”
Menerima tuduhan seperti itu, bapak si pengiyok sangat kaget. Niatnya ingin menolong sekarang malah dijadikan tersangka. Belum sempat ia membela diri, tiba-tiba warga yang datang mulai main hakim sendiri. Satu persatu datang memukul dengan tangan kosong dan benda yang ada di sekitarnya.
“Demi Allah saya bukan pembunuh.”
Terdengar samar-samar ucapan pembelaan dari dalam kerumunan. Namun warga yang sudah tersulut emosi tidak memperdulikannya.
“Dasar pengiyok, ayo hajar terus jangan perdulikan.”
Tiba-tiba warga menghentikan pukulan-pukulan mereka.
“Cukup, ia sudah tidak bergerak lagi.”
Seorang warga mengomandoi untuk berhenti. Sesaat kemudian terlihat dua sosok manusia tergelatak tidak bernafas lagi. Satu memang sudah meninggal karena tusukan benda tajam, satu lagi tewas karena dikeroyok. Si pengiyok yang saat itu masih sangat kecil sangat terpukul melihat sang bapak meninggal secara tragis dikeroyok oleh massa.
Pepatah menolong anjing terjepit tampaknya sedang berlaku terhadap bapaknya. Niatnya tadi inging menolong wanita yang menjadi korban, ternyata malah terkena fitnah.
Pasca kejadian itu si pengiyok yang sekarang tinggal sendirian itu mengalami depresi yang luar biasa, apalagi seminggu setelah itu sang ibu menyusul sang ayah menghadap pencipta. Peristiwa itu sungguh sangat membuatnya merasa tidak ingin hidup lagi.
Semenjak itulah ia mengasingkan diri di gubuk reot. Ia tidak pernah lagi merawat penampilannya. Yang pasti dalam hatinya ia yakin bahwa bapaknya bukanlah seorang pengiyok seperti yang dilabelkan warga. ia tahu persis bapaknya orang jujur dan ikhlas dalam setiap aktivitasnya.
*****
“Sumarlin…..Sumarlin!”
Malam itu sayup-sayup si pengiyok mendengar suara yang memanggil nama aslinya. Ia tahu hanya satu orang yang tahu nama aslinya, tapi apakah benar itu dia. Tapi kenapa ia datang malam-malam seperti ini.
“Sumarlin buka pintunya!”
Suara semakin jelas di telinganya, dan ia yakin betul jika itu sahabatnya yang selama ini sudah tidak datang, tapi kenapa ia datang malam-malam.
Setelah pintu dibuka, tampak wajah Seraul dengan kecemasan yang sangat besar. Seraul langsung masuk dan memberikan isyarat untuk segera menutup pintu.
“Aku ada informasi yang akurat terkait kasus orang tuamu.”
“Aku sudah tahu siapa yang memfitnah orang tuamu.”
Si pengiyok tampak datar saja menanggapinya. Hal itu membuat Seraul menjadi heran.
“Kenapa kamu seperti ini, apakah kamu tidak ingin mengetahui siapa yang memfitnah orang tuamu.”
“Biarlah itu menjadi kisah lama, tidak usah kamu ungkit-ungkit lagi.”
“Lebih baik sekarang kamu pulang.”
Lelaki itu mengusir sahabatnya karibnya dan membuat Seraul semakin heran. Namun Seraul tahu jika sahabatnya itu memang sedang tidak ingin diganggu, maka dengan sedikit rasa berat ia pun pergi meninggalkan gubuk sahabtnya itu.
Selepas kepergian sahabatnya, si pengiyok mengambil sebuah foto dari dalam tumpukan baju lusuh, terlihat di situ foto sepasang pengantin sedang tersenyum. Dan ternyata foto itu adalah foto orang tua Seraul. Di baliknya foto itu sehingga terpampang sebuah tulisan besar “Kalian sudah memfitnah orang tuaku, kalian sudah membunuh orang tuaku”. Setelah membaca itu tampak tangannya mengepal seperti menyimpan dendam yang sangat membara.
“kalau tidak karena persahabatanku dengan anakmu, sudah lama aku akan balas dendam” gumamnya dalam hati.
*****
*Catatan: Pengiyok adalah orang yang suka berbohong atau berdusta (bahasa Pemulutan)
BIONARASI PENULIS
Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]
