Kawasan Pecinan Sungailiat dan Peluang Destinasi Wellness Tourism Berbasis Slow Living

Oleh: Ir. Dwi Rizka Zulkia, B.A., M.Sc. — Akademisi Universitas Bangka Belitung

Tren pariwisata global saat ini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Wisatawan modern tidak lagi hanya mencari destinasi yang ramai, megah, atau populer di media sosial. Sebaliknya, muncul kecenderungan baru yang menempatkan ketenangan, kesehatan mental, pengalaman autentik, dan kualitas interaksi sosial sebagai bagian penting dari pengalaman wisata. Fenomena ini melahirkan perkembangan wellness tourism yang semakin kuat di berbagai negara.

Dalam konteks tersebut, kawasan heritage perkotaan memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata berbasis wellbeing. Salah satu kawasan yang memiliki potensi tersebut adalah kawasan Pecinan Sungailiat di Bangka. Kawasan ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah dan budaya Tionghoa, tetapi juga memiliki suasana ruang yang relatif tenang, aktivitas sosial yang masih hidup, serta karakter kawasan yang sangat sesuai dengan konsep slow living.

Slow living dalam pariwisata bukan sekadar berjalan lambat atau menikmati suasana santai. Konsep ini menekankan pengalaman wisata yang lebih mindful, mendalam, dan manusiawi. Wisatawan diajak menikmati ruang kota, budaya lokal, kuliner, hingga interaksi sosial secara lebih personal. Dalam perspektif ini, kekuatan utama sebuah kawasan bukan lagi terletak pada atraksi buatan, tetapi pada kualitas pengalaman yang mampu diciptakan.

Baca Juga  Konservasi atau Komoditas? Nasib Tuntong Laut di Bangka Belitung

Jika dilihat lebih jauh, Kawasan Pecinan Sungailiat sebenarnya memiliki modal yang sangat kuat untuk dikembangkan ke arah tersebut. Tantangannya adalah bagaimana pengembangan kawasan dilakukan secara aplikatif, terencana, dan tetap menjaga identitas budaya lokal. Setidaknya terdapat 7 (tujuh) potensi strategis yang dapat menjadi arah pengembangan wellness tourism berbasis slow living di kawasan ini.

Pertama, penguatan pedestrian heritage. Salah satu elemen penting dalam slow living tourism adalah pengalaman berjalan kaki yang nyaman dan menyenangkan. Kawasan Pecinan Sungailiat memiliki koridor jalan dengan karakter bangunan lama, aktivitas perdagangan tradisional, serta suasana kota yang relatif tidak terlalu padat. Potensi ini dapat diperkuat melalui penataan pedestrian yang lebih ramah pejalan kaki, penambahan street furniture, pencahayaan kawasan, vegetasi peneduh, serta penataan fasad bangunan heritage. Dengan demikian, wisatawan dapat menikmati kawasan secara perlahan sambil merasakan atmosfer budaya yang autentik.

Baca Juga  Putusan MK Batalkan HGU 190 Tahun di IKN: Keputusan Tegas yang Mengedepankan Keadilan Agraria dan Keberlanjutan

Kedua, pengembangan wisata kuliner sehat dan tradisional. Kuliner merupakan identitas penting dalam budaya pecinan Bangka. Namun pengembangannya perlu diarahkan tidak hanya sebagai wisata makan, tetapi juga sebagai bagian dari wellness experience. Kuliner tradisional khas Bangka-Tionghoa dapat dipromosikan melalui konsep healthy traditional food, penggunaan bahan lokal, pengalaman memasak tradisional, hingga penyajian yang menonjolkan nilai budaya dan kesehatan. Wisatawan modern semakin tertarik pada makanan yang tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki cerita, nilai budaya, dan manfaat kesehatan.