Menjadi terkenal, dihormati, atau dikenal banyak orang itu boleh-boleh saja. Itu wajar dan manusiawi. Namun, ingatlah batasnya: “Cari nama boleh, tapi jangan sampai menjatuhkan nama orang lain, hanya demi mencari nama di mata orang lain.” Kehormatan seseorang adalah hal yang paling berharga, hampir setara dengan nyawanya. Merusak kehormatan orang lain sama berat dosanya dan dampaknya dengan melukai fisiknya.

Apalagi di zaman sekarang, di mana informasi menyebar begitu cepat, satu kata buruk yang kita ucapkan bisa menjadi api yang membakar banyak pihak, termasuk diri kita sendiri pada akhirnya. Orang yang benar-benar hebat dan berkarakter, tidak perlu berteriak atau menunjuk kekurangan orang lain agar dirinya dilihat. Cukup dengan hasil karya, sikap yang santun, dan prestasi yang murni, orang lain akan datang sendiri untuk memberi penghargaan.

Baca Juga  Menulislah, Kamu akan Dipaksa untuk Membaca

Lihatlah mereka yang namanya harum sepanjang masa. Mereka yang dikenang karena kebaikannya, karena bantuannya, karena ia menjadi tempat berteduh bagi orang lain, bukan orang yang ditakuti karena suka menindas. Di lingkungan kerja, di organisasi, di lingkungan masyarakat, atau di mana pun kita berada, jadilah orang yang membuat suasana menjadi lebih baik, lebih damai, dan lebih nyaman.

Jadilah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Jadilah orang yang jika ada orang lain berhasil, kita ikut bahagia dan menjadikan itu motivasi. Jika ada orang lain sedang berjuang, kita justru berikan dukungan, bukan malah menabrak langkahnya. Persaingan yang sehat itu indah, persaingan yang memacu diri untuk lebih giat belajar dan bekerja, persaingan yang membuat kita semakin berkualitas, bukan persaingan yang saling mematikan.

Baca Juga  Disonansi Kognitif

Kembali ke perumpamaan awal: Menyalakan lilin diri sendiri tidak akan pernah mengurangi cahaya lilin tetangga. Justru, semakin banyak lilin yang menyala di sekitar kita, semakin terang pula dunia di sekitar kita. Jika lilin orang lain padam karena kita tiup, maka yang tersisa hanyalah kegelapan di mana kita juga akan sulit berjalan. Tapi jika kita saling menyalakan, saling menguatkan, dan saling menghargai, maka terang itu akan menyebar ke mana-mana, dan kita pun ikut menikmati kehangatannya.

Mari kita ubah pola pikir dan perilaku kita. Berjuanglah sekuat tenaga, kejar cita-cita setinggi langit, cari rezeki di mana saja pintu rezeki terbuka. Tapi ingat satu hal yang paling penting: pastikan langkah kaki kita tidak menginjak orang lain. Pastikan tangan kita tidak pernah menyakiti atau merusak apa yang sudah orang lain usahakan.

Baca Juga  Peran Penegak Hukum dalam Menegakkan Aturan Penambangan Timah yang Bertanggung Jawab

Pastikan mulut kita senantiasa menjaga lisan, menjaga nama baik diri sendiri, dan juga menjaga nama baik sesama manusia. Karena pada akhirnya, kemenangan yang paling sejati bukanlah ketika kita menang sendirian dan orang lain kalah, melainkan ketika kita berhasil meraih apa yang kita cita-citakan, sambil tetap bisa tersenyum dan bersalaman dengan semua orang dengan hati yang bersih, bersyukur, dan damai. Itulah kemenangan yang sesungguhnya, kemenangan yang membawa keberkahan abadi.