Penulis: Eqi Fitri Marehan,S.I.Kom — Guru MTsS Bahrul Ulum

Ada ungkapan sederhana namun sangat dalam maknanya: “Tidak perlu meniup lilin orang lain, hanya untuk membuat lilinmu lebih terang.” Kalimat ini seolah menjadi cermin bagi kita semua, tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menjalani hidup, mengejar rezeki, nama baik, maupun posisi di tengah masyarakat. Sering kali, tanpa sadar atau bahkan dengan sengaja, kita terjebak dalam pola pikir bahwa keberhasilan kita harus dibangun di atas kegagalan atau kerugian orang lain. Padahal, hidup ini begitu luas, rezeki itu beragam, dan kesempatan itu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berusaha dengan cara yang benar.

Kita semua tahu, bahwa pada dasarnya kita sama-sama sedang “mencari makan”. Bekerja keras, berjuang demi kehidupan yang layak, berusaha memberi nafkah bagi keluarga, dan mengejar cita-cita. Banyak dari kita berada di tempat yang sama, bergerak di bidang yang sama, atau memiliki tujuan yang hampir serupa.

Baca Juga  Teori Administrasi Publik Tak Lagi di Buku Saja

Namun, pertanyaannya: apakah kesamaan itu harus berarti persaingan yang saling mematikan? Tentu tidak. Mencari rezeki di tempat yang sama bukan berarti kita harus saling menginjak, saling menjatuhkan, atau bahkan sengaja memecahkan piring orang lain yang sedang sedang menikmati hasil usahanya. Justru di sinilah letak ujian terbesar karakter seseorang. Seberapa besar kita bisa menjaga etika, sopan santun, dan rasa hormat, meskipun kita sedang berjuang di jalur yang berdekatan.

Ada pemahaman keliru yang masih melekat kuat di benak sebagian orang: “Kalau dia berhasil, berarti aku rugi.” “Kalau dia maju, berarti aku tertinggal.” Anggapan ini keliru besar. Rezeki dan keberhasilan tidak berjalan dengan sistem pembagian porsi yang terbatas, di mana bagian orang lain bertambah maka bagian kita berkurang. Tidak begitu aturannya.

Baca Juga  Tantangan Guru di Era Modern

Rezeki itu luas, datang dari arah yang tak terduga, dan Allah SWT telah menjaminnya bagi setiap makhluk-Nya. Bahkan, sering kali justru ketika kita ikhlas melihat orang lain berhasil, justru di situlah jalan rezeki kita sendiri makin terbuka lebar. Menjatuhkan orang lain, merusak usahanya, atau menghalangi langkahnya, sama saja kita sedang menutup pintu berkah untuk diri sendiri. Ingatlah, piring kita akan tetap penuh dan aman, selama kita tidak menyibakkan isi piring orang lain hanya untuk mencari kesalahan atau kekurangannya.

Lebih menyedihkan lagi ketika perilaku saling menjatuhkan ini dilakukan semata-mata demi “mencari nama”. Inilah bentuk ambisi yang tidak sehat dan sangat merusak. Ada orang yang rela menjelekkan nama baik orang lain, menyebarkan berita yang belum tentu benar, atau menciptakan isu-isu negatif, hanya supaya dirinya terlihat lebih baik, lebih hebat, atau lebih dihargai di mata orang lain.

Baca Juga  Lima Waktu

Padahal, nama baik dan penghargaan tidak bisa dibeli atau dipaksa dengan cara seperti itu. Nama baik itu dibangun lewat ketulusan, kerja keras, integritas, dan kebaikan yang nyata. Nama yang didapatkan dengan cara menindas, memfitnah, atau merendahkan orang lain, tidak akan bertahan lama. Seperti bangunan yang dibangun di atas pasir, sebentar saja akan runtuh saat diguncang ujian. Orang mungkin memuji sementara waktu, tapi ketika tahu kebenarannya, justru nama itulah yang akan tercemar parah dan sulit diperbaiki kembali .