Ketika Pelindung Menjadi Pemangsa
3. Ketimpangan di Sektor Ekonomi dan Sosial
Di bidang ekonomi dan sosial, sang pemangsa hadir dalam rupa kebijakan publik yang eksploitatif. Lembaga atau figur yang diberi amanah untuk mengelola hajat hidup orang banyak justru memprivatisasi ruang hidup, mengorupsi bantuan sosial, atau membiarkan monopoli merajalela. Di permukaan, program-program pembangunan diluncurkan atas nama kesejahteraan, namun di akar rumput, rakyat justru terasing dari tanah dan hak-hak dasarnya sendiri akibat regulasi yang bias kepentingan korporasi.
4. Kebangkrutan Etis: Jauh dari Nilai Amanah, Keikhlasan, dan Kejujuran
Dari kacamata spiritual, seluruh bentuk rekayasa dan keculasan di atas adalah penanda nyata dari kebangkrutan nilai keagamaan. Semua agama dan sistem keyakinan universal menempatkan kekuasaan sebagai instrumen pengabdian, bukan alat pemuasan ketamakan.
* Kehilangan Amanah: Ketika pelindung menjadi pemangsa, mereka telah menghancurkan esensi amanah—sebuah titipan suci yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan manusia.
* Sirnanya Keikhlasan: Niat tulus untuk mengabdi demi kemaslahatan bersama (keikhlasan) telah digantikan oleh syahwat politik dan materi yang egois.
* Matinya Kejujuran: Teater hukum dan politik yang direkayasa adalah bentuk manipulasi sistemik yang membunuh nilai kejujuran. Ketika kejujuran mati di tangan para pemimpin, maka sendi-sendi kepercayaan publik runtuh seketika.
Secara argumentatif, ketika ancaman itu lahir dari rahim kekuasaan internal yang berlindung di balik tameng hukum, politik formal, dan topeng religiositas palsu, kehancuran yang terjadi bersifat mutlak dan tanpa ampun. Korban tidak memiliki ruang untuk membela diri karena mereka dihancurkan oleh sistem yang awalnya mereka percaya sebagai perisai. Di titik ini, peribahasa kita mengenal istilah “pagar makan tanaman”, sebuah konfirmasi lokal atas kebenaran universal dari pepatah Arab di atas.
Pada akhirnya, pepatah ini adalah sebuah peringatan keras bagi setiap lini kehidupan yang melibatkan kekuasaan. Amanah tanpa moralitas dan nilai agama hanya akan melahirkan tirani yang tersistemasi. Selama para “penggembala” melupakan sumpah setia mereka dan memilih menggunakan topeng legalitas untuk menjadi pemangsa, maka selama itu pula keadilan akan menjadi mangsa pertama yang mati di padang rumput kehidupan.
