Oleh: Muhammad Faiq Elfaruq

Di panggung kaca yang fana ini
Kita kerap menari di atas jempol-jempol asing
Mengemis kutukan, mengumpulkan angka-angka sunyi
Demi secangkir pengakuan yang lekas mengering

Kamu sibuk mengecat dinding luar rumahmu
Berteriak pada dunia: “Lihat, aku begini! Aku Begitu!”
Namun di balik topeng branding yang kaku
Jiwa yang lapar tetap saja meraba kelabu

Sebab dengar, kawan….
Teman yang sejati tidak lahir dari papan iklan
Mereka datang bukan karena polesan etalase
Tetapi karena keaslianmu yang bersuara tanpa bising
Yang hadir saat duniamu sedang ringsek dan pesimis

Baca Juga  10 Jenis Pantun dan Contohnya, Pahami dan Praktekan