Di luar jendela, badai ekonomi kian menderu,
Rupiah limbung, tak lagi berdaya diburu.
Dolar melesat tajam, tembus delapan belas ribu,
Mencekik leher rakyat yang kian membiru.
Harga-harga melambung membakar atap rumah,
Membuat yang miskin kian pasrah dan rebah.

Janji manis meluncur bagai air terjun,
Sementara fondasi bangsa kian beracun.
Tak ada lagi tiang yang mampu menahan beban,
Saat keadilan habis digilas keserakahan.

Kini tirai panggung mulai perlahan turun,
Menyisakan jelaga dan amarah yang menahun.
Tak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan,
Kita hanya tinggal menunggu… sebuah kehancuran.

Baca Juga  Terhalang oleh Takdir, Lantas Kenapa Dipertemukan?