Piala Dunia 2026 di Era Digital: Antara Transformasi Relasi Sosial, Solidaritas, dan Komodifikasi Budaya
Oleh: Berlian Saputra — Perangkat Desa Jelutung Kecamatan Namang Kabupaten Bangka Tengah/Alumni Sosiologi FISIP UBB
Tinggal menghitung hari lagi, Piala Dunia 2026 akan segera dimulai. Dengan ini, Piala Dunia sebagai ajang yang ditunggu masyarakat dunia, ajang bergengsi akbar dan sekaligus perayaan pesta bola bagi para pecinta sepak bola setiap empat tahun sekali penyelenggaraan. Hal ini akan kembali terlihat pada Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di tiga negara sekaligus di Benua Amerika, yaitu Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko sebagai edisi Piala Dunia ke-23.
Uniknya, ini merupakan sejarah pertama atau sejarah baru bagi FIFA terkait tuan rumah (Host Country) Piala Dunia lebih dari dua negara yang sebelumnya pernah terjadi pada Piala Dunia 2002 sebagaimana pada tahun tersebut diselenggarakan di Negara Jepang dan Korea Selatan. Selain itu, Piala Dunia 2026 juga telah melahirkan format baru dalam hal jumlah slot putaran final yang dari sebelumnya 32 negara sekarang menjadi 48 negara.
Itu artinya ada tambahan 16 negara yang bergabung. Beberapa negara baru debut lolos kualifikasi Piala Dunia 2026 dari enam konfederasi ada empat negara yaitu Yordania, Uzbekistan, Tanjung Verde dan Curacao. Penyelenggaraan tersebut dimulai dari tanggal 11 Juni 2026 – 19 Juli 2026. Adapun lagu resmi Piala Dunia 2026 yaitu “Dai Dai” sebagai anthem utama yang dibawakan oleh penyanyi Shakira dan musisi Nigeria, Burna Boy. Selain itu, FIFA merilis lagu single resmi yang berjudul “Lighter” yang dibawakan oleh Jelly Roll dan Carin Leon.
Namun, penulis akan mengaitkan Piala Dunia 2026 di era digital dengan transformasi relasi sosial, solidaritas sosial dan komodifikasi budaya dalam perspektif sosiologi. Berbicara tentang transformasi Piala Dunia, Piala Dunia selalu menjadi lebih dari sekadar turnamen sepak bola. Piala Dunia sebagai peristiwa sosial global yang mengubah cara orang berinteraksi, berbicara dan bahkan merasakan kebersamaan sosial. Namun, yang menarik bukan hanya skala turnamen Piala Dunia saja, melainkan bagaimana Piala Dunia hadir ditengah masyarakat yang semakin terhubung secara digital.
Di era media sosial, pengalaman menonton Piala Dunia tidak lagi bersifat individual atau terbatas pada ruang tertentu. Setiap pertandingan langsung menjadi percakapan publik yang masif. Orang-orang yang tidak saling mengenal atau orang awam bisa berada dalam satu ruang diskusi yang sama, saling merespons, berdebat, hingga merayakan momen tertentu secara serempak. Teriakan “gol” pada sebuah pertandingan menjadi sebuah simbol merayakan euforia tanpa batas namun tetap kendali ekspresi publik. Dalam konteks ini, relasi sosial mengalami transformasi secara cepat yaitu tidak lagi bergantung pada kedekatan fisik secara langsung, tetapi pada koneksi digital yang serba cepat, luas dan tanpa batas.
Penulis merasakan bahwa perubahan ini membuat Piala Dunia memiliki dimensi sosial yang terbaru. Jika dulu kebersamaan terbentuk di ruang-ruang pada umumnya seperti rumah, warung kopi (warkop) atau kafe bahkan lapangan, kini Piala Dunia juga hadir dilayar ponsel pintar. Terkait solidaritas sosial, solidaritas muncul dalam bentuk dukungan kolektif terhadap tim nasional, unggahan di media sosial, hingga partisipasi dalam percakapan daring yang melibatkan jutaan orang diseluruh dunia.
