Riuh Seng Karat
Di bawahnya, hujan menenun aksara air
pada pungung bumi yang dingin.
Lalu larut menjadi genangan
bersama nama-nama yang telah dilupakan.
Seng karat itu tetap bersuara
meski tubuhnya habis dimakan musim.
Sebab ada luka yang menjadikan dirinya rumah,
ada rindu yang memilih tinggal sebagai bunyi.
(Toboali, 05 Juni 2026)
Penulis puisi adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Toboali Kabupaten Bangka Selatan
Halaman
1 2
