“Maafkan aku, para aksara yang terhormat.
Bukan maksudku meninggalkanmu,
tetapi badai tahun lalu menggempur nalarku,
hingga terkubur cipta karsaku

Setelah reda, kini aku kembali
kepada aksara-aksara yang aku cintai.

Kali ini aku berjanji.

Disaksikan deretan huruf yang terlanjur hadir,
aku akan memberi sentuhan akhir,
agar diksi-diksi tak mangkrak mubazir.

Sekali lagi mohon dimaklumi.
Terima kasih, hadirin, sudah sudi menanti.”

Toboali, 14 Juni 2026, Sang Peramu Aksara

Baca Juga  Menulis untuk Kehidupan