Zuhud: Seni Merdeka dari Belenggu Materi
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi
Pernahkah Anda melihat seseorang yang berpakaian sangat sederhana, makan seadanya, dan menarik diri dari riuh rendah kemajuan zaman, lalu seketika melabelinya sebagai orang yang zuhud? Atau sebaliknya, saat melihat seseorang mengendarai mobil mewah dan memimpin bisnis gurita, kita langsung menuduhnya sebagai hamba dunia?
Jika iya, kita mungkin sedang terjebak dalam bias visual yang subjektif. Bagi sebagian besar dari kita, kata “zuhud” terlanjur berbalut stereotip yang keliru: sebuah konsep yang identik dengan kemiskinan, wajah yang murung, baju yang koyak, atau kepasrahan yang pasif terhadap keadaan. Kita sering mengira bahwa untuk mendekat kepada Sang Pencipta, kita harus memusuhi dunia yang Dia ciptakan.
Padahal, zuhud tidak pernah meminta kita menjadi miskin. Zuhud adalah tentang kedaulatan hati.
Kamar yang Bernama Hati
Bayangkan sebuah kapal megah yang sedang berlayar di samudra luas. Kapal itu membutuhkan air laut yang melimpah untuk bisa bergerak maju menuju pelabuhan tujuan. Keberadaan air di sekeliling kapal adalah sebuah keniscayaan, bahkan berkah. Namun, bencana baru akan terjadi jika air laut itu mulai bocor dan masuk memenuhi lambung kapal. Kapal itu akan berat, tenggelam, lalu karam. Kehidupan kita adalah kapal itu, dan dunia adalah samudra luas.
Zuhud adalah seni menjaga agar air dunia tidak masuk dan menenggelamkan hati Anda. Hati adalah ruang suci yang terlalu berharga jika hanya diisi oleh dekorasi duniawi yang fana—seperti pujian manusia, tumpukan saldo, atau status sosial.
Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar, pernah meluruskan esensi ini dengan sangat indah: “Zuhud di dunia itu adalah dengan pendeknya angan-angan (tidak rakus), bukan dengan memakan makanan yang hambar atau memakai pakaian yang koyak.”
Artinya, zuhud bukan tentang apa yang melekat di tubuh Anda, melainkan apa yang mencengkeram hati Anda. Harta boleh saja memenuhi genggaman tangan Anda, tetapi ia tidak boleh sedetik pun merenggut kemerdekaan hati Anda.
Meniru Para Miliarder yang Zuhud
Jika zuhud diartikan sebagai antipati terhadap kekayaan, maka kita akan kesulitan memahami kehidupan para sahabat Nabi Muhammad saw.
Ingatkah kita pada Abdurrahman bin Auf? Beliau adalah pebisnis ulung, seorang konglomerat Madinah yang kekayaannya sulit dihitung. Suatu hari, kafilah dagangnya datang membawa ratusan unta yang sarat dengan barang pokok. Alih-alih menyimpannya untuk memonopoli pasar, beliau menyedekahkan seluruh kafilah itu beserta muatannya untuk penduduk Madinah.
Atau tengoklah Utsman bin Affan, yang dengan santai membeli sumur milik seorang Yahudi demi membebaskan krisis air kaum muslimin, lalu mendanai pasukan perang dari kantong pribadinya.
Apakah mereka tidak kaya? Mereka sangat kaya. Namun, mengapa mereka disebut zuhud? Karena ketika harta itu datang, hati mereka tidak melonjak kegirangan melebihi rasa syukur kepada Allah. Dan ketika harta itu pergi untuk diinfakkan, hati mereka tidak merasa kehilangan, sebab mereka tahu pemilik aslinya bukan diri mereka. Bagi mereka, dunia hanyalah alat, bukan tujuan.
