Penulis: Muhammad Faiq Elfaruq — Mahasiswa Akuakultur Universitas Bangka Belitung/Peneliti Muda Konservasi Satwa/Anggota BKPRMI Bangka

Pulau Bangka Belitung menyimpan kekayaan hayati yang berperan sebagai paru-paru alam sekaligus penyangga utama keseimbangan lingkungan hidup. Namun selama lebih dari tiga dekade terakhir, wajah ekosistem di wilayah ini mengalami perubahan yang sangat drastis. Rawa-rawa mengering, aliran sungai menjadi keruh dan dangkal, serta hamparan hutan beralih fungsi akibat aktivitas penambangan tanpa izin dan pencemaran limbah yang tidak terkelola dengan baik.

Akibatnya, habitat alami kura-kura lokal seperti Kura-Kura Ambon (Cuora amboinensis) dan Kura-Kura Pipit Hitam (Siebenrockiella crassicollis) semakin terdesak ruang hidupnya. Populasi kedua jenis satwa ini terus menurun tajam dan kini masuk dalam daftar satwa yang memerlukan perlindungan khusus demi mencegah kepunahan di alam liar.

Baca Juga  Senyap dalam Bara

Di tengah kondisi yang memprihatinkan itu, upaya konservasi yang dilakukan secara mandiri menjadi bukti nyata bahwa perubahan positif dapat dimulai dari kepedulian individu. Bagi saya, kegiatan ini bermula sekadar hobi saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Sering melihat kura-kura diperjualbelikan secara bebas atau terjebak di lahan bekas tambang yang sudah tidak layak huni, menumbuhkan rasa prihatin yang mendalam. Dari situlah keinginan muncul untuk mencoba membudidayakan dan menetaskan telur secara ex-situ di luar habitat aslinyatanpa mengandalkan bantuan dana besar maupun lembaga resmi.

Perjalanan ini tidaklah mudah. Tahun pertama penuh dengan tantangan: banyak telur gagal menetas, lingkungan pemeliharaan belum sesuai standar, serta pengetahuan yang dimiliki masih sangat terbatas. Namun ketekunan dan kesabaran perlahan membuahkan hasil. Pada tahun pertama berhasil menetaskan Kura-Kura Ambon, dan dua tahun berikutnya disusul keberhasilan menetaskan Kura-Kura Pipit Hitam, spesies yang statusnya sudah terancam punah di alam bebas.

Baca Juga  Pemerintah Mudahkan Akses Pencari Kerja dengan Menghapus Syarat Batas Usia dan Good Looking

Hingga pertengahan tahun 2026, jumlah individu yang berhasil ditetaskan dan dipelihara telah mendekati angka 300 ekor. Angka ini bukan sekadar hitungan semata, melainkan simbol harapan bagi kelestarian spesies yang memiliki peran vital. Sebagai pemakan bangkai dan tumbuhan air, kura-kura berfungsi menjaga kebersihan perairan serta membantu penyebaran biji tanaman rawa, sehingga menjaga kesuburan ekosistem secara alami.