Menjaga Warisan “Ikan Naga” dari Tambak Lokal: Belajar dari Budidaya Ikan Arwana Brazil milik Zainal Arifin
Dari perspektif ekonomi, budidaya arwana Brazil menawarkan peluang yang sangat menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Noor et al. (2023) di Bandar Lampung menunjukkan bahwa budidaya larva ikan arwana Brazil dengan pakan alami yang diperkaya HUFA menghasilkan proyeksi laba sebesar Rp1.442.000 per siklus produksi, dengan titik impas (Break Even Point) pada 66 ekor ikan. Penelitian ini menegaskan bahwa budidaya larva arwana Brazil merupakan pilihan bisnis yang menjanjikan secara ekonomi di Indonesia.
Harga jual arwana silver di pasar lokal cukup bervariasi. Untuk ukuran 10-30 cm, harga berkisar antara Rp65.000 hingga Rp350.000, sementara untuk ukuran kecil-sedang berkisar Rp145.000 hingga Rp380.000. Variasi albino atau silver red dapat mencapai harga Rp199.000 hingga lebih dari Rp700.000. Dengan permintaan ekspor yang tinggi terutama ke negara-negara seperti China, Hongkong, Jepang, dan Amerika Serikat potensi pasar arwana Brazil masih sangat terbuka lebar.
Budidaya arwana Brazil di tambak lokal bukan sekadar kegiatan ekonomi. Ini adalah warisan yang perlu dijaga warisan tentang bagaimana manusia dapat bekerja sama dengan alam, memanfaatkan potensi sumber daya hayati secara berkelanjutan, dan menciptakan nilai tambah dari komoditas yang awalnya berasal dari benua lain. Seperti yang diungkapkan dalam kajian dari IPB, meskipun beberapa spesies arwana terancam punah di alam liar, upaya budidaya yang bertanggung jawab memainkan peran krusial dalam konservasi. Dengan meningkatkan produksi melalui budidaya, tekanan terhadap populasi liar dapat dikurangi, sekaligus membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kisah Zainal Arifin dan para pembudidaya arwana Brazil lainnya adalah pengingat bahwa di balik kilau sisik “ikan naga” terdapat kerja keras, dedikasi, dan kearifan yang patut kita apresiasi. Mereka adalah penjaga warisan yang memastikan bahwa si “naga perak” dari Amazon tetap bisa dinikmati keindahannya oleh generasi mendatang bukan dari alam liar yang terancam, melainkan dari tambak-tambak lokal yang dikelola dengan penuh cinta dan tanggung jawab.
Daftar Referensi
Sinatryani, D., & Pursetyo, K.T. (2013). Hatchery of arwana silver brazil (osteoglossum bicirrhosum) in mina karya koi centre, district of sleman, province di. yogyakarta. Journal of Marine and Coastal Science, 2(1).
Noor, H.F., Jati, C.W., & Santoso, L. (2023). Studi Kelayakan Bisnis Larva Ikan Arwana Brazil (Osteoglossum bicirrhosum) dengan Penggunaan Pakan Alami yang Diperkaya HUFA. LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia.
Apriyandi et al. (2021). Pengaruh Pemberian Jenis Cacing yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Arwana Brazil (Osleoglossum bicirrhosum). Jurnal Borneo Akuatika.
Santanumurti, B., Samara, S., Pratama, E.K.W., Hudaidah, S., & Putri, B. (2021). The evaluation of seed production of silver arowana fish Osteoglossum bicirrhosum (Cuvier, 1829) with different natural feeding. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science.
Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ikan Arwana sebagai Komoditas Utama Perdagangan Ikan Hias Dunia.
Teknologi Pendederan Kelayakan Usaha Ikan Hias Arwana Silver (Osteoglossum biccirhosum, Cuvier 1820) Skala Rumah Tangga. Ejournal Balitbang KKP, 2016.
