Oleh: Hermianto — Pembelajar Sosial, Politik dan Pembangunan

Sensus penduduk menunjukkan sebuah potret demografi yang tidak bisa diabaikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Generasi Z kini resmi menjadi faksi terbesar dalam piramida struktur sosial-kemasyarakatan di Bumi Serumpun Sebalai. Dominasi anak muda ini dianggap berkah tak terhingga yang menjanjikan lonjakan produktivitas daerah. Di sudut-sudut kota, mulai dari lanskap urban Pangkalpinang hingga eksotisme tepi pantai Belitung, geliat anak muda ini begitu tampak. Mereka merajai ruang publik lewat menjamurnya kedai kopi estetik, pembuat konten (content creator), hingga subkultur UMKM digital yang giat menjajakan produk fesyen dan kuliner lokal via lokapasar.

Akan tetapi, di balik tampilan visual yang menarik di media sosial tersebut, terdapat sebuah kontradiksi sosial yang mengkhawatirkan. Menjamurnya usaha kreatif anak muda di Babel ini bukanlah tanda kemakmuran, melainkan bentuk pelarian positif dari minimnya lapangan kerja formal. Jika pemerintah daerah gagal membangun infrastruktur hilirisasi ekonomi kreatif, bonus demografi ini akan berujung pada ancaman pengangguran yang nyata.

Baca Juga  Menyongsong Babel Pasca-Timah: Membangun Fondasi Ekonomi yang Mandiri

Jika kita membedah realitas sosio-ekonomi di lapangan secara jujur, maraknya keterlibatan Gen Z dalam industri kreatif di Babel saat ini berada dalam fase mode bertahan hidup (survival mode). Hal ini karena, maraknya pendirian usaha oleh generasi muda tidak secara otomatis menunjukkan bahwa perekonomian di wilayah ini kuat dan stabil. Sebaliknya, fenomena ini adalah cerminan dari menyusutnya opsi lapangan kerja formal di sektor-sektor konvensional.

Era kejayaan komoditas ekstraktif yang fluktuatif serta sektor perkebunan rakyat (sawit dan lada) yang rentan terhadap guncangan harga dunia tidak lagi mampu menampung ekspektasi, kompetensi, dan kapasitas generasi baru ini. Akibatnya, Gen Z dipaksa oleh keadaan untuk mendesain ruang kerja mereka sendiri. Kreativitas mereka merupakan berkah komparatif yang lahir dari himpitan situasi ekonomi. Sektor formal pasca-kejayaan timah secara gamblang telah gagal menyerap pasokan tenaga kerja terdidik lokal secara maksimal.

Baca Juga  Membentuk Identitas melalui Pembangunan Kawasan 

Namun, mengandalkan idealisme dan daya juang alami dari Gen Z saja tentu tidaklah cukup, bahkan cenderung berbahaya bagi stabilitas jangka panjang daerah. Potensi ekonomi kreatif yang digerakkan anak muda Babel saat ini sedang membentur pembatas struktural yang teramat tebal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Babel (2026), Tingkat Pengangguran Terbuka di Kepulauan Bangka Belitung bertengger di kisaran 4,15 persen.