Akselerasi Perguruan Tinggi: Saatnya Miliki Program Studi Teknologi Logam Tanah Jarang
Oleh: Heri S — Penulis Tetap Timelines.id
Di tanah Bangka Belitung, di lumpur Kalimantan, dan di pasir pantai Sulawesi, tersimpan komoditas yang hari ini menentukan arah peradaban. Tanah Jarang atau Rare Earth Elements. Hanya 17 unsur, namun perannya vital. Potensi bijih mineral kritis ini diantaranya terdapat dari mineral ikutan seperti timah, nikel, dan bauksit.
Adapun rincian 17 Unsur Logam Tanah Jarang yaitu kelompok Lantanida (15 unsur): Lantanum (La), Serium (Ce), Praseodimium (Pr), Neodimium (Nd), Prometium (Pm), Samarium (Sm), Europium (Eu), Gadolinium (Gd), Terbium (Tb), Disprosium (Dy), Holmium (Ho), Erbium (Er), Tulium (Tm), Iterbium (Yb), dan Lutesium (Lu).Unsur Tambahan (2 unsur): Skandium (Sc) dan Itrium (Y).
Dari magnet turbin angin, baterai mobil listrik, hingga sistem radar dan chip semikonduktor, semuanya bergantung pada unsur kecil ini. Dengan kata lain, peta kekuasaan dan industri abad 21 sedang ditulis ulang, dan tintanya adalah tanah jarang.
Namun secara struktural, posisi Indonesia dalam rantai nilai ini masih memprihatinkan. Kita sebelumnya masih berada pada pola lama yaitu mengekspor bahan mentah berupa pasir mineral dan konsentrat, lalu mengimpor kembali dalam bentuk produk hilir seperti magnet, baterai, dan komponen elektronik dengan nilai 10 hingga 20 kali lipat.
Ini bukan sekadar masalah defisit neraca dagang. Ini adalah masalah kedaulatan. Karena negara yang tidak menguasai proses pengolahan, pada akhirnya akan kehilangan kendali atas harga, teknologi, dan masa depan industrinya sendiri.
Ironisnya semakin jelas jika kita bedah tiga modal utama yang kita miliki. Pertama, secara geologi kita tidak miskin. Cadangan tanah jarang ada di tanah kita sendiri. Kedua, secara geografis kita diuntungkan. Sebagai negara maritim, laut kita luas dan posisi kita berada di jalur perdagangan dunia. Ketiga, secara demografis kita punya potensi. Anak muda kita cerdas dan melek teknologi.
Satu-satunya variabel yang belum kita miliki adalah kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengolah. Selama gap ini tidak ditutup, maka sekaya apapun sumber daya kita, kita akan tetap terjebak sebagai pengekspor harapan dan pengimpor kenyataan.
Akar masalahnya kita tidak punya “Pusat Ilmu atau Centre Of Knowledge”, dan mengapa gap itu terjadi? jawabannya ada di hulu paling dasar adalah pendidikan tinggi dan riset. Coba kita jujur. Hari ini kampus mana di Indonesia yang memiliki Program Studi khusus Tanah Jarang? Tidak ada. Yang ada adalah Prodi Pertambangan, Kimia, Fisika, Metalurgi. Itu sangat penting, tapi tidak cukup.
Faktanya, hingga hari ini hanya negara China yang memiliki program sarjana khusus untuk logam tanah jarang. Negara ini sudah selangkah lebih maju, tidak hanya menguasai dunia tambang dan hilirisasi logam tanah jarang tapi juga mencetak insinyurnya sendiri.
Sementara itu negara maju seperti Amerika Serikat dan kawasan Barat baru sibuk mengejar ketertinggalan. Mereka terpaksa membangun pusat riset metalurgi umum karena mengalami defisit besar tenaga ahli yang spesifik di bidang tanah jarang.

