Negara-negara yang menguasai rantai ini tidak menumbuhkannya dalam semalam. Mereka membangunnya lewat kampus, lewat laboratorium, lewat generasi insinyur yang memang disiapkan sejak awal.

Tanpa “Pusat Ilmu” ini, kita akan terus bergantung. Investor asing datang membawa teknologinya, membawa ahlinya, dan kita hanya kebagian jadi operator. Saat harga naik, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Saat pasokan ditahan karena geopolitik, industri kita lumpuh. Ini sudah terjadi pada banyak negara. Jangan sampai giliran kita.

Solusinya harus dimulai sekarang adalah mendirikan Prodi Teknologi dan Rekayasa Tanah Jarang. Kurikulumnya harus mencakup seluruh rantai, dari geologi eksplorasi, kimia ekstraksi dan pemisahan, hingga metalurgi dan pembuatan produk hilir seperti magnet dan baterai. Ditambah aspek keamanan radiasi, ekonomi sirkular, dan geopolitik energi.

Program strategisnya harus bangun ekosistem terintegrasi, mulai dari kampus dan tidak bisa instan. Ini bukan sekadar menambah nama prodi. Ini adalah membangun ekosistem. Kurikulumnya harus utuh dari hulu ke hilir:

Hulunya geologi eksplorasi dan penambangan berkelanjutan, dengan fokus pada pemanfaatan limbah timah. Tengah: Kimia ekstraksi dan proses pemisahan. Bagian paling mahal dan paling dikuasai sedikit negara. Hilir: Metalurgi, pembuatan magnet, baterai, katalis, dan material untuk elektronik serta pertahanan. Pendukung keamanan radiasi, ekonomi sirkular, kebijakan sumber daya strategis, dan geopolitik energi.

Prodi ini tidak bisa jalan tanpa laboratorium lengkap dan pilot plant. Mahasiswa harus belajar langsung dengan bahan baku dari Indonesia, bukan hanya dari buku. Lokasinya paling logis dan strategis ada di Bangka Belitung sebagai pusat riset, sehingga Universitas Bangka Belitung dan Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung harus menjadi pioner program studi teknologi logam tanah jarang dengan simpul riset terkoneksi di ITB, UGM, ITS. Politeknik juga harus dilibatkan untuk mencetak teknisi lapangan.

Tentu ada tantangan. Lingkungan, investasi, regulasi. Tapi justru karena ada tantangan itulah kita butuh prodinya. Agar sejak awal kita melahirkan insinyur yang paham “green processing”, yang tidak mengulang kesalahan masa lalu. Agar regulasi dibuat oleh orang yang paham teknisnya. Agar investasi diarahkan oleh orang yang paham bisnisnya.

Ini soal waktu dan keberanian. Kita bisa membayangkan tahun 2035 Indonesia menjadi produsen energi dan industri di kancah global. Jika hari ini kita mulai, maka 10 tahun lagi kita sudah punya 5.000 insinyur tanah jarang. Kita akan punya 2-3 pabrik pemurnian skala industri internasional sehingga potensi logam tanah jarang akan menjadi  tulang punggung empat sektor strategis Indonesia .

Di bidang elektronik, ia menjadi bahan dasar layar gawai, komputer, televisi, hingga lampu LED. Di sektor energi bersih, ia menopang baterai kendaraan listrik dan turbin angin. Untuk pertahanan, ia adalah komponen utama radar dan alutsista modern. Sementara di industri lain, ia berfungsi sebagai katalis pemurnian minyak dan campuran untuk menghasilkan baja berkekuatan tinggi.

Tapi jika kita menunda, maka skenario 2035 akan sama seperti hari ini: kita tetap jadi pasar. Kita tetap impor. Kita tetap memohon. Kedaulatan pangan kita jaga lewat sawah.  Kedaulatan energi kita jaga lewat pembangkit.  Kedaulatan teknologi harus kita jaga lewat kampus.

Jangan sampai anak cucu kita bertanya 20 tahun lagi: “Dulu tanah kita ada tanah jarangnya, kenapa kita tidak jadi ahlinya?”  Dan jawaban kita tidak boleh! “Karena kita takut memulai.” Buka Prodi Tanah Jarang sekarang.  Cetak ahlinya sekarang.  Ambil alih teknologi canggih masa depan , sebelum potensi tersebut semakin jarang.