Dari Meja Goyang Menuju Panggung Dunia
Oleh: Yan Megawandi
Di Bangka Belitung, banyak orang terutama di Pulau Belitung hampir semua orang mengenal meja goyang. Bahkan informasi dari seorang dosen UBB ternyata ada sekitar 181 meja goyang yang berada di Belitung Timur saja. Dan informasinya lagi ternyata meja-meja itu beroperasi tanpa izin dan perlindungan aturan tentang keamanan, lingkungan dan kesehatan.
Ini bukan meja yang bergoyang karena gempa. Bukan pula meja tempat orang berjoget. Meja goyang adalah alat sederhana yang sejak bertahun-tahun menjadi sahabat para penambang timah. Di atas meja inilah pasir dipisahkan, mineral disaring, lalu butiran timah dikumpulkan.
Meja goyang telah menghidupi ribuan keluarga. Namun diam-diam, ia juga menyimpan sebuah ironi. Ancaman bahaya yang menghantui karena pasir timah yang digoyang dengan cara sederhana itu ternyata mengancam kesehatan manusia.
Saat dunia berbicara tentang mobil listrik, kecerdasan buatan, energi hijau, hingga teknologi pertahanan modern, kita masih sibuk memisahkan mineral dengan teknologi yang usianya sudah puluhan tahun. Padahal, di dalam pasir yang setiap hari kita olah itu tersimpan logam-logam yang kini diperebutkan negara-negara besar. Namanya Logam Tanah Jarang (LTJ).
Bagi sebagian orang, istilah ini terdengar asing. Padahal hampir setiap hari kita memegang hasil akhirnya. Telepon genggam, kendaraan listrik, turbin angin, layar televisi, bahkan rudal dan satelit modern tidak akan bekerja tanpa logam tanah jarang.
Yang menarik, Bangka Belitung ternyata menyimpan kekayaan tersebut. Monasit, xenotim, zircon, dan berbagai mineral ikutan lainnya selama ini lebih sering dianggap “teman” timah. Nilainya tidak terlalu diperhatikan karena fokus kita hanya satu: timah. Padahal di banyak negara, justru mineral ikutan itulah yang menjadi harta karun sesungguhnya.
Persoalannya kemudian bukan lagi apakah kita memiliki sumber daya. Jawabannya jelas: kita punya.Yang belum kita miliki adalah kemampuan mengubah pasir biasa menjadi produk berteknologi tinggi. Di sinilah meja goyang mulai bercerita.
Bayangkan seorang petani yang memiliki sawah sangat luas tetapi hanya mempunyai sabit. Hasil panennya tentu tetap ada, tetapi tidak akan pernah mampu menyaingi negara yang sudah menggunakan mesin modern. Begitu pula dengan Logam Tanah Jarang.
Meja goyang hanya mampu melakukan pemisahan sederhana berdasarkan berat jenis mineral. Sementara Logam Tanah Jarang memerlukan proses yang jauh lebih rumit. Ada pemisahan menggunakan magnet, listrik statis, gelembung udara, pelarut kimia, resin khusus hingga pembakaran pada suhu lebih dari seribu derajat Celsius. Semua tahapan itu bertujuan menghasilkan Rare Earth Oxide (REO), yaitu bahan baku industri teknologi tinggi. Tanpa proses tersebut, pasir kita tetaplah pasir. Dengan proses itulah nilainya bisa melonjak berkali-kali lipat.
Ketika Meja Goyang Jadi Ancaman yang Tak Terlihat
Seperti telah ditulis di awal. Meja goyang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bangka Belitung selama puluhan tahun. Banyak keluarga yang hidup darinya. Tidak sedikit anak-anak yang berhasil menamatkan sekolah karena penghasilan yang diperoleh dari meja sederhana ini. Karena itu, rasanya tidak adil jika kita menyalahkan meja goyang.
Persoalannya bukan pada mejanya. Persoalannya adalah kita terlalu lama membiarkan meja goyang bekerja sendirian, sementara ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berlari jauh meninggalkannya.
Yang sering tidak kita sadari, setiap kali pasir timah dipisahkan, bukan hanya timah yang tertinggal. Ada monasit, xenotim, zircon, ilmenit, dan berbagai mineral lain yang ikut terkumpul. Sebagian di antaranya mengandung thorium dan unsur radioaktif alami. Selama ini kita lebih sering melihatnya sebagai pasir biasa. Padahal alam sedang memberi isyarat bahwa pasir itu tidak sesederhana yang kita bayangkan.
Bayangkan sebuah halaman rumah. Setiap hari seseorang menyapu daun-daun kering ke satu sudut. Hari pertama tampak biasa. Hari kedua juga tidak ada masalah. Sebulan kemudian tumpukan itu mulai membusuk. Setahun kemudian menjadi sarang penyakit. Begitulah kira-kira yang terjadi ketika mineral ikutan terus ditumpuk tanpa pengelolaan yang benar.
Ancamannya bukan sesuatu yang bisa kita lihat dengan mata telanjang. Ia tidak berbau. Tidak berwarna. Tidak pula langsung membuat orang sakit. Justru karena tidak terlihat, kita sering merasa semuanya baik-baik saja.
Padahal, ketika tumpukan mineral mengering, angin dapat membawa debu-debu halus ke permukiman. Ketika hujan turun, air dapat melarutkan sebagian unsur yang kemudian mengalir ke kolong, sungai, atau lahan pertanian. Sedikit demi sedikit, tanpa kita sadari, lingkungan mulai menyimpan beban yang seharusnya tidak ada.

