Oleh: Sobirin Malian — Dosen dan Penggiat Literasi

Pernahkah kita merasakan dada yang begitu sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit, hingga bernapas pun terasa berat? Sungguh, tidak ada beban yang lebih melekat di dalam dada seorang manusia melebihi beban hutang yang belum terbayar. Hutang mungkin terasa manis dan mudah saat tangan kita menerimanya. Namun, ia menjelma menjadi pil pahit yang menyiksa saat janji pelunasan harus ditepati.

Dalam syariat Islam, hutang bukanlah sekadar transaksi duniawi yang selesai begitu saja di atas kertas. Ia adalah tali pengikat yang nasibnya membentang hingga ke akhirat. Rasulullah SAW melalui berbagai hadis sahih telah memberikan peringatan yang teramat bergetar bagi hati yang mau merenung.

Taruhan Akhirat: Dari Surga hingga Status Pencuri

Bayangkan sebuah skenario yang mengerikan: seorang hamba yang taat, yang menjaga salatnya dan menyempurnakan puasanya, ternyata harus tertahan di pintu surga. Ruh dan jiwanya terombang-ambing, tergantung di awang-awang, hanya karena ada hak manusia lain yang belum ia selesaikan di bumi (Sunan At-Tirmidzi, No. 1078).

Lebih memilukan lagi, mereka yang sengaja abai dan lari dari tanggung jawabnya akan dibangkitkan pada Hari Kiamat kelak dengan status yang hina, yaitu sebagai seorang pencuri (Sunan Ibnu Majah, No. 2410). Pada hari itu, mata uang dunia tidak lagi berlaku. Sebagai gantinya, pahala-pahala kebaikan yang kita kumpulkan dengan bersusah payah selama hidup di dunia akan dicabut, lalu diserahkan begitu saja kepada orang yang kita hutangi sebagai ganti ruginya.

Bahkan, gugur mulia di medan perang pun tidak mampu menghapus noda ini. Dosa hutang menjadi satu-satunya pembatas yang tidak akan diampuni, sekalipun seseorang mati dalam keadaan syahid (Shahih Muslim, No. 1886). Sungguh sebuah kerugian yang teramat nyata.