Negara yang Berkembang, Rakyat yang Berjuang, Refleksi 81 Tahun Indonesia dari Negeri Timah
Pertanian harus diperkuat.
Perikanan harus diberi nilai tambah.
Pariwisata harus dikembangkan secara serius.
UMKM harus naik kelas.
Industri pengolahan harus diperluas.
Anak-anak muda harus diberi keterampilan yang sesuai dengan ekonomi masa depan.
Sebab kemerdekaan ekonomi tidak mungkin dibangun hanya dari satu komoditas.
Republik yang tumbuh harus membawa rakyatnya tumbuh
Pada akhirnya, 81 tahun Indonesia bukan sekadar perjalanan dari penjajahan menuju kemerdekaan.
Ia adalah perjalanan dari ketergantungan menuju kemandirian.
Dan Bangka Belitung memiliki kisahnya sendiri.
Kita pernah hidup dari timah.
Kita pernah menikmati kejayaan timah.
Kita pernah menyaksikan perubahan ketika timah menjadi semakin sulit didapat.
Kita melihat tambang rakyat tumbuh.
Kita melihat konflik kepentingan.
Kita melihat kerusakan lingkungan.
Kita melihat penyelundupan.
Kita melihat negara datang dengan penertiban.
Dan sekarang kita kembali berada pada persimpangan.
Apakah kekayaan timah akan kembali menjadi sumber kesejahteraan yang dikelola secara adil?
Ataukah kita hanya akan mengulang siklus lama dengan wajah yang berbeda?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena penelitian terbaru tentang tambang rakyat di Belitung menunjukkan bahwa keterbatasan penyerapan hasil tambang dapat menyebabkan ketidakstabilan pendapatan, keterlambatan pembayaran, meningkatnya ketergantungan kepada tengkulak, dan tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Maka, memberantas tambang ilegal harus berjalan beriringan dengan membangun ekonomi rakyat.
Penegakan hukum tanpa solusi ekonomi berisiko meninggalkan ruang kosong.
Sebaliknya, pemberian ruang ekonomi tanpa tata kelola dan penegakan hukum juga akan melanggengkan persoalan lama.
Keduanya harus berjalan bersama.
81 tahun kemudian
Pada usia 81 tahun, kita boleh bangga bahwa Republik ini tumbuh.
Tetapi kita juga harus cukup jujur untuk bertanya: apakah rakyat ikut tumbuh bersamanya?
Sebab ukuran kemerdekaan tidak hanya terlihat dari gedung-gedung tinggi, jalan yang semakin panjang, atau angka pertumbuhan ekonomi.
Kemerdekaan juga hadir ketika seorang nelayan mampu menyekolahkan anaknya.
Ketika petani memperoleh harga yang layak.
Ketika pekerja memiliki pekerjaan yang aman.
Ketika anak muda tidak harus meninggalkan kampung halaman karena tidak menemukan masa depan.
Dan ketika masyarakat di daerah penghasil kekayaan alam tidak hanya menjadi penonton ketika kekayaannya dibicarakan dalam angka triliunan rupiah.
Republik harus terus tumbuh.
Tetapi jangan biarkan rakyat hanya menjadi mereka yang terus bertahan.
Sebab setelah 81 tahun Indonesia merdeka, cita-cita kita seharusnya bukan lagi sekadar “Indonesia menjadi negara kaya.”
Cita-cita yang lebih penting adalah:
Indonesia menjadi negara yang membuat rakyatnya merasa bahwa kekayaan negeri ini memang milik mereka, dan kemerdekaan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah pekerjaan rumah kita setelah 81 tahun Indonesia.
Dan bagi Bangka Belitung, mungkin pertanyaannya sederhana:
Setelah begitu lama menggali kekayaan dari perut bumi, kapan kita benar-benar berhasil menggali kesejahteraan dari kekayaan itu untuk rakyat?
Karena itu, ukuran keberhasilan penertiban tambang bukan hanya berapa banyak aset yang diselamatkan, melainkan setelah operasi dihentikan.

