Begini Strategi BP2RD Bangka Barat dalam Mendongkrak PAD
“Jadi perusahaan sawit itu masuk ke PBB-P3. Sementara PBB-P2 kami terus mengejar juga agar seluruh OPD ini juga membayar PBB-P2, dan alhamdulillah sudah 10 OPD yang bayar dengan realisasi 100 persen. Kemudian 20 OPD sudah bayar di atas 50 persen dan 2 OPD masih di bawah itu,” katanya.
Ia mengatakan, PBB-P2 ini akan terus mereka gencarkan realisasi pembayarannya bahkan sampai ke tingkat kecamatan. Pasalnya, target PBB-P2 tahun 2026 naik dibandingkan 2025 dari Rp6 miliar menjadi Rp7,3 miliar lebih.
“Sedangkan WP tidak bertambah dan NJOP tidak naik. Jadi kami bagaimana berusaha mencari solusi untuk mengoptimalkan objek pajak yang berkualitas. Misalnya perusahaan sawit dan tambak udang, apalagi lahan mereka sudah di atas 20 hektare walaupun itu pribadi,” katanya.
Sebelumnya, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bangka Barat (Babar) pada semester I atau triwulan II hingga Juni 2026 mencatatkan capaian positif sebesar Rp55,3 miliar. Angka ini setara dengan 51,81 persen dari total target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp106,8 miliar.
Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Bangka Barat, Muhammad Ali, menyatakan bahwa secara akumulatif, empat sektor penyumbang PAD telah melampaui target minimal pertengahan tahun sebesar 50 persen.
“Jika dibandingkan dengan capaian semester I tahun 2025 lalu, ada tren peningkatan performa realisasi yang lebih baik pada tahun ini,” ujar Ali saat dikonfirmasi pada Kamis (6/8/2026).
Berdasarkan data BP2RD Bangka Barat, berikut adalah rincian performa realisasi dari empat sektor utama penyumbang PAD Babar hingga Juni 2026. Pertama Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. Sektor ini mencatatkan capaian tertinggi.

