Dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Bangka Selatan mencatat tingginya kerentanan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), seperti minimnya penutur tradisi lisan, terancamnya bahasa daerah (Bahasa Habang dan Bahasa Sekak), serta enggannya generasi muda meneruskan ritus dan adat istiadat setempat (Kawin Herdek, Muang Patong, Hikok Helawang). Lembaga pendidikan menjadi sarana paling transformatif untuk mewariskan nilai-nilai tersebut agar tidak hilang ditelan arus modernisasi.

Landasan Yuridis dan Kerangka Pedagogis

Revitalisasi ini memiliki legalitas formal melalui UU No. 20 Tahun 2003, Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024, serta Perda Bangka Selatan No. 3 Tahun 2022 yang mengamanatkan fleksibilitas pembelajaran dan diversifikasi Muatan Lokal tanpa mengubah struktur Kurikulum Nasional. Secara operasional, penguatan budaya diintegrasikan melalui kerangka Taksonomi Bloom Revisi (C1–C6) guna mengeskalasi kognisi siswa dari ranah hafalan menuju Higher Order Thinking Skills (HOTS):

  • C1–C2 (Mengingat & Memahami): Siswa mengenali sejarah lokal, toponimi Toboali, dan ragam artefak daerah.
  • C3–C4 (Menerapkan & Menganalisis): Siswa menganalisis nilai filosofis di balik tradisi gotong royong Junjung Besaoh serta kearifan lingkungan pesisir.
  • C5–C6 (Mengevaluasi & Mencipta): Siswa mengevaluasi tantangan pelestarian budaya dan mampu menciptakan karya atau konten pelestarian budaya berbasis teknologi.

Integrasi Multiliterasi berbasis Potensi Daerah

Sinergi antara Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan substansi kebudayaan lokal melahirkan pembelajaran yang kontekstual:

  • Literasi Baca-Tulis & Budaya: Mengkaji dan mendokumentasikan cerita rakyat lokal seperti Kisah Batu Perahu atau Akek Antak.
  • Literasi Sains & Numerasi: Mengamati ekosistem pesisir serta mengalkulasi data statistik pengolahan produk daerah seperti Belacan Habang.
  • Literasi Digital: Mengedukasi murid untuk memroduksi konten digital berbasis kesenian tradisional (seperti Tari Tigel dan musik Bedambus) sekaligus menepis disinformasi di ruang digital.

Penerapan model integrated curriculum ini memastikan bahwa revitalisasi kurikulum di Bangka Selatan tidak sekadar memenuhi tuntutan administratif nasional, melainkan menjadi benteng pertahanan identitas daerah yang mencetak generasi literat, berkarakter, dan berakar kuat pada nilai kebudayaannya.