Sebuah Fatwa Tersirat Nahdlatul Ulama: Mencegah Konglomerat Menjelma Menjadi Oligarki
Sesungguhnya NU adalah berkah bagi bangsa, negara, serta umat Islam di seluruh dunia karena mampu menutup jurang pemisah antara pemilik modal dan rakyat jelata. Tentunya, semua profesi yang baik adalah sunnah Rasulullah SAW, terutama bisnis atau berdagang.
Sebagai penutup, berikut beberapa kutipan nasihat dari para pendiri dan ulama NU, khususnya bagi Nahdliyin, umat Islam, serta umat beragama pada umumnya:
KH. Hasyim Asy’ari (Rais Aam Akbar PBNU, Pendiri NU):
“Barangsiapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan husnul khatimah beserta anak-cucunya.”
KH. A. Wahab Chasbullah (Rais Aam PBNU 1947–1971):
“Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati mereka oleh propaganda luar biasa yang menghasut seolah-olah senjata itu bukan meriam, tetapi hanya gelugu alias batang kelapa.”
KH. Ridwan Abdullah (Pencipta Lambang NU):
“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplainlah kepadaku jika aku masih hidup. Tapi jika aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku.”
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur):
“Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba amatiran.”
KH. Bisri Syansuri (Rais Aam PBNU 1972–1980):
“Sekarang saya sudah mengerti apa itu Pancasila. Sekarang bila ada orang Indonesia, bila orang Islam, orang NU yang anti-Pancasila, itu berarti anti kepadaku.”
KH. A. Wahid Hasyim (Menteri Agama Pertama):
“Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?”
KH. Achmad Siddiq:
“NU itu ibarat kereta api, bukan taksi yang bisa dibawa sopirnya ke mana saja. Rel NU itu sudah tetap.”
K.H.R. As’ad Syamsul Arifin (Pahlawan Nasional):
“Kalau kalian tidak mau repot, jangan berjuang. Karena perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan.”

