Oleh: Dedi Melyanhadi, S.Sos, M.M, C. LFS, C. HRA, C. LA.ALC — Alumni Magister Manajemen FE UBB

Berdasarkan data BMKG 2026, peluang hujan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diperkirakan baru akan terjadi pada bulan Oktober hingga Desember 2026. Sejak Juli sampai September 2026, cuaca panas telah menyelimuti seluruh wilayah Indonesia selama dua bulan. Kondisi ini berdampak pada terganggunya perekonomian masyarakat, terutama di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan akibat kekeringan. Gejala sosial di masyarakat juga berimbas pada gangguan kamtibmas yang disebabkan oleh pembakaran atau terbakarnya area hutan, kebun, ladang, bahkan pemukiman penduduk.

Hampir setiap saat kita membaca berita di media sosial mengenai kejadian kebakaran hutan, kebun, ladang, dan rumah di berbagai wilayah. Peristiwa ini berdampak sangat buruk terhadap sektor ekonomi, sosial, serta kesehatan akibat asap tebal yang ditimbulkannya.

Pemerintah bersama instansi terkait telah berupaya mencegah karhutla melalui imbauan, sosialisasi, hingga turun langsung ke lapangan untuk memadamkan titik api yang terpantau. Namun, langkah ini masih kurang berdampak apabila tidak diimbangi rasa kepedulian dan kesadaran pribadi dari masyarakat. Sebagian warga masih bersikap apatis dengan tetap melakukan pembakaran hutan, kebun, dan ladang untuk membuka lahan pertanian serta perkebunan.

Di beberapa wilayah, masyarakat juga mulai kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur dan sungai-sungai besar mengering. Sebagai contoh, Sungai Barito di Kalimantan mengalami penyusutan debit air secara drastis hingga memunculkan gosong pasir dan menjadi sangat dangkal, sehingga mengganggu transportasi sungai. Kondisi serupa terjadi di Sungai Mahakam (Kalimantan Timur) dan Sungai Bengawan Solo (Jawa Tengah) yang dipicu oleh puncak musim kemarau saat ini.