Menelisik Legenda Batu Tudung Akek Antak, Warisan Tutur dari Pesisir Simpang Rimba

Oleh: Kulul Sari — Ketua LAM Bangka Selatan

Di antara ragam bentang alamnya, batu granit menjadi ciri khas Pulau Bangka. Tak jauh dari bibir pantai di Desa Rajik, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan, terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai tudung atau caping. Bagi masyarakat setempat, batu granit ini bukan sekadar bentukan alam biasa. Di balik wujudnya yang unik, tersimpan legenda yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Masyarakat mengaitkan batu tersebut dengan sosok yang dikenal dalam cerita rakyat Bangka sebagai Cek Antak atau Akek Antak seorang tokoh sakti yang namanya amat mashur dalam khazanah cerita tutur lisan masyarakat Pulau Bangka.

Konon, pada suatu masa, Cek Antak melakukan perjalanan ke negeri seberang. Dalam perjalanan itu, ia mengenakan tudung sebagai pelindung kepala. Sepulang dari negeri seberang, ia tiba di tepian laut lalu beristirahat di atas sebuah batu granit.

Angin laut yang sejuk berembus perlahan. Dalam suasana tenang, Cek Antak meletakkan tudungnya di atas batu granit sembari menikmati semilir angin dan memandang hamparan laut. Namun, ketika hendak melanjutkan perjalanan ke Bukit Permisan, ia lupa mengambil tudung tersebut.