Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Tudung yang tertinggal itu dipercaya kian lama kian mengeras, hingga akhirnya membatu dan menyatu dengan batu granit di bawahnya. Wujudnya yang menyerupai tudung atau caping lantas menjadi penanda bahwa di tempat itulah, menurut kisah yang hidup di tengah masyarakat, tudung milik Akek Antak pernah tertinggal.

Kini, Batu Tudung Akek Antak menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat dan lanskap budaya Pulau Bangka. Terlepas dari proses pembentukannya secara geologis, legenda ini memberikan lapisan makna tersendiri: alam tak sekadar dipandang sebagai bentang fisik, melainkan juga ruang tempat masyarakat menyimpan ingatan, kisah, dan warisan leluhur.

Legenda tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat Bangka mewariskan sejarah serta kearifan lokal melalui tutur lisan. Dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, kisah Akek Antak dan tudung batunya tetap hidup. Ia menjadi pengingat bahwa setiap batu, bukit, hutan, dan pesisir di Pulau Bangka senantiasa menyimpan cerita yang tak lapuk oleh waktu.

Tudung itu mungkin telah menjadi batu, tetapi kisahnya akan terus abadi dalam ingatan masyarakat.