Institut Pahlawan 12 Bahas Tata Kelola Sampah Berkelanjutan di Wilayah Pascatambang
Vegi Fera Lusianti menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Pemerintah daerah berperan menyediakan kebijakan, fasilitas, dan pendampingan, namun perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama.
Sementara itu, Muhammad Arinda Unigraha Utama menyoroti peran komunitas lingkungan dalam membangun gerakan sosial pengelolaan sampah. Menurutnya, inovasi dan kreativitas masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menciptakan solusi lingkungan yang sesuai dengan kondisi lokal Bangka Belitung.
Dari perspektif akademik, Dr. Widya Handini menjelaskan pengelolaan sampah perlu diarahkan pada pendekatan ekonomi sirkular, yaitu bagaimana sampah dapat dikurangi, dimanfaatkan kembali, dan menghasilkan nilai tambah. Konsep seperti waste to food, waste to energy, serta pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk dan kebutuhan pertanian menjadi alternatif yang dapat dikembangkan.
FGD juga membahas keterkaitan pengelolaan sampah dengan masa transisi pascatambang. Peserta menilai kebijakan pascatambang harus disusun secara terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat.
Hasil diskusi menghasilkan sejumlah rekomendasi: perlunya penguatan kepemimpinan dan kelembagaan pengelolaan sampah, pembagian peran antaraktor yang jelas, peningkatan partisipasi masyarakat, dukungan kebijakan pemerintah, serta pemanfaatan teknologi dan inovasi.
Melalui kegiatan ini, Institut Pahlawan 12 berharap dapat menghasilkan model tata kelola kolaboratif yang tidak hanya memberi kontribusi akademik, tetapi juga menjadi masukan praktis bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah berkelanjutan di wilayah pascatambang timah Kepulauan Bangka Belitung.

