Pemburu Daun Himpor: Cerita Masa Kecil di Bangka Selatan
Pemburu Daun Himpor: Cerita Masa Kecil di Bangka Selatan
Oleh: Gito
“Mamak pulang!” teriak Waiz, si bungsu, sambil berlari kecil membuka pintu rumah saat derap langkah ibunya terdengar di tangga.
Begitu pintu terbuka, mata bulat Waiz langsung berbinar-binar melihat kantong yang dibawa ibunya.
“Ye! Mamak muik lakso!” Suara kegirangan itu langsung memancing sang abang, Bilal, keluar dari kamar.
Betapa tidak, lakso khas Bangka Selatan berkuah santan gurih dan ikan segar itu adalah makanan yang hampir setiap hari mereka santap. Sebagai anak-anak masa kini, mereka menikmati kelezatannya tanpa pernah tahu bahwa sebenarnya darah seorang pembuat lakso legendaris mengalir di keluarga mereka dari sang nenek tercinta.
Pagi itu, di teras rumah yang berangin sepoi-sepoi, Bilal dan Waiz duduk bersila melahap lakso hangat di piring masing-masing. Sambil melihat kedua anaknya menikmati makanan tersebut, saya tersenyum kecil dan memegang sehelai daun simpor sisa alas penyajian lakso.
“Tahu tak ini daun apa?” pancing saya pelan.
“Tak!” sahut Waiz.
“Nian daun apa tu, Yah?” ucap Bilal dengan rasa ingin tahu sambil menyuap laksonya, sementara Waiz ikut mendongak penuh minat.
“Dulu, pas Ayah agik kecet macam ikak, kebahagiaan terbesar Ayah ukan ge diajak berjalan-jalan atau beli mainan mahal,” cerita saya mulai mengenang masa lalu. “Tentang seorang anak bungsu yang memiliki kebahagiaan sungguh sangat sederhana, yaitu menjadi pemburu daun himpor di hutan dan pinggir rawa untuk membantu ibunya yang kesehariannya sebagai pembuat lakso.”
Mendengar cerita itu, Bilal dan Waiz langsung tertegun sejenak. Suapan dari sesendok lakso di tangan mereka melambat, terganti oleh rasa takjub mendengar sisi lain dari masa kecil sang ayah.
“Beneran, Yah? Nyari daun ke hutan, kan?” tanya Bilal dengan mata berbinar, penasaran bagaimana mungkin sehelai daun bisa menjadi sumber kebahagiaan sebesar itu.
Sambil tersenyum menatap keduanya, saya mengangguk perlahan. Ingatan saya sendiri mulai melayang jauh menembus lorong waktu sekitar 15 sampai 20 tahun silam, membayangkan rimbunnya pohon himpor di sudut rawa Toboali tempat saya dulu mencari penghidupan keluarga ditemani sang kakak perempuan.
“Aok, kadang ke hutan, kadang cari dekat rawa, Nak,” jawab saya memuaskan rasa penasaran mereka sambil tersenyum mengenang masa lalu. “Biasanya pas Ayah pulang sekolah atau agak sore. Jadi waktu itu, baju sekolah kami kadang belum dilepas dan belum sempat diganti.”
Saya mengingat kenangan asyik bersama sang kakak perempuan yang dahulunya setiap pulang sekolah langsung berbelok arah menuju kebun-kebun warga dan pinggiran rawa liar di Toboali.
“Duh, untuk apa nian daun itu, Yah?” timpal Waiz.

