Pemburu Daun Himpor: Cerita Masa Kecil di Bangka Selatan
“Nian pacak diubah jadi duit, kan? Macam sulap-sulap itu?” ucap Bilal.
Saya tersenyum. “Ukan, Jang. Dulu nenek ikak tukang lakso. Nah, Ayah yang menjual sebelum pergi sekolah. Abok ikak itu tukang peras lakso, ayuk Ayah itu tukang cap-nya di atas daun ini kalau lakso sudah masak.”
“Hahaha, ya ya, rupanya Ayah nyari daun ini tadi…” Waiz mengejek sambil tertawa.
“Ukan ni, Jang. Itu waktu kecil dulu,” ucap saya sambil menyentil pelan telinga Waiz.
“Tak ada sembarang petik daunnya,” lanjut saya sambil menaikkan sedikit nada suara, mencoba meredakan tawa Waiz. “Kalau kata abok ikak dulu ngajar Ayah, daun himpor itu ada yang betina, ada yang jantan juga.”
Saya menjelaskan hal itu kepada Waiz dan Bilal.
“Duh ya, dia sekolah tak kalau ada betina ada jantan?” ketus Waiz dengan nada polos sedikit nyeleneh.
“Jadi kalau sampai salah ambil jenis daunnya, dagangan lakso nenek ikak haru kelak menaruh lakso di daunnya. Soalnya cepat bantat.”
“Nian bedanya apa, Yah?” tanya Bilal penasaran, sementara Waiz mendekat dengan mata berbinar-binar.
“Kalau himpor betina itu daunnya lebar, lentur, halus, dan sempurna untuk alas lakso. Nah, kalau himpor jantan permukaannya kaku dan kasar, jadi cepat bantat,” pungkas saya menjelaskan rahasia kecil masa lalu di teras rumah sambil sesekali menyuap sisa-sisa lakso yang belum disantap.
“Jadi Nak, daun himpor ini kalau bagi Ayah dulu sudah dijadikan seolah-olah menemukan harta karun kalau ketemu daun himpor.”
Saya sedikit menjelaskan alasan keluarga kami dulu menganggap daun himpor sangat berharga. Ibu saya dahulu tidak mau lakso tersebut beralaskan selain daun himpor; lebih baik tidak berjualan. Berbeda dengan sekarang yang kadang ditemukan lakso dikemas menggunakan mika plastik. Walaupun ada yang masih menggunakan daun pisang, tetap saja daun himpor yang memang menyatu dengan identitas lakso.
“Ikak tahu tak, saking seringnya Ayah nyari daun himpor ini…” ungkap saya sambil menceritakan letak kebahagiaan masa kecil dahulu. “Jadi pernah nih Ayah diajak nenek ikak dan abok berjalan ke rumah kerabat kita. Agak jauh perjalanannya, dan ketika melewati hutan, pandangan mata Ayah tak lepas dari keberadaan daun himpor. Bahkan dalam otak Ayah ikak ini: ‘Waw, banyak daun himpor!'”
Saya tersenyum mengingat masa lalu. “Nah, saking bahagianya ketika sampai di tujuan, Ayah tetap nyari daun himpor untuk dibawa pulang. Dengan gembira Ayah ikak dulu saking inginnya, karena merasa rugi kalau tidak diambil daun himpor itu.”
Saya menceritakan kepada mereka berdua bagaimana saya dan kakak saya sangat bahagia ketika bisa menemukan daun himpor tersebut di mana pun kami berada.
Hingga saat ini, setiap kali menemukan daun himpor, kenangan bersama Ibu langsung muncul kembali. Setiap melihat daun himpor, terlintas di benak saya bahwa ada cerita haru di balik tanaman yang bernama latin Dillenia suffruticosa ini.
Sampai hari ini pun di keluarga kami, lakso jarang absen sebagai menu sarapan pagi, karena ada kenangan haru masa lalu di balik perjuangan seorang ibu yang melestarikan makanan khas Bangka Selatan tersebut.

