Pilu Rimba Berjubah Jelaga
Dalam mayanya dunia, mereka kira semua kisah itu biasa yang akan viral cepat kemudian sirna.
Harus ada yang cerita, tidak ada rimba berjubah jelaga sebelum lahir generasi mereka.
Luka yang tidak pernah hadir di dasawarsa-dasawarsa sebelumnya,
Menyerbu datang bagai badai menderu bawa duka.
Kala itu rimba masih bernyanyi merdu dengan kanopi yang hijau menjulang angkasa.
Sejuk embun mencair dalam hembusan angin sepanjang hari.
Jernihnya air memenuhi alirnya, bawa berita gembira dari rimba gunung megah di hulunya.
Suara satwa bersulam sutra bersahut-sahutan, terasa lembut memenuhi jiwa.
Atmosfer penuh gas kehidupan membuat mentari malu bertatapan.
Duhai…
Pemantik api, kecil lakumu, besar lukaku.
Adakah sesal di relung kalbumu?
Ataukah puas rimbaku tersapu?
Duhai…
Setiap jiwa akan merasa sedikit banyak kesusahan makhluk di sekitarnya,
Kan diminta pertanggungjawabannya,
Kan memetik buah karyanya,
Kebaikankah atau keburukankah akhir hidupnya?
Toboali-Pangkalpinang, 2026

