Sufyan Ats-Tsauri, ulama besar sekaligus pedagang, pernah menjual kain. Ia menawarkan: “Kain ini bagus, tetapi ada sedikit cacat di bagian belakang.” Pembeli bertanya: “Mengapa engkau sebutkan jika tak terlihat?”

Sufyan menjawab tenang:

“Jika aku menyembunyikannya, maka aku telah memakan kebutaan hatimu dengan kejelian mataku. Itu bukan rezeki, itu menipu.”

Pembeli tetap membeli, dan berkata: “Selama engkau hidup seperti ini, rezekimu tak akan pernah terputus.” Benar saja, hingga wafatnya, keberkahan dagangannya melimpah tanpa harus mencari ke mana-mana.

3. Abdullah bin Mubarak — Satu Kurma yang Menjaga Langkah

Suatu hari, Abdullah bin Mubarak membeli kurma seharga satu dirham. Sesampainya di rumah, ia menimbang dan mendapati beratnya kurang sedikit. Ia kembali ke penjual dan meminta penambahan. Orang-orang di sekitarnya heran: “Engkau orang kaya, memikirkan sepotong kurma?”

Ia menjawab:

“Bukan soal harganya. Aku takut jika aku membiarkan yang kecil ini berlalu, hatiku akan terbiasa membiarkan yang besar. Mulut yang terbiasa menelan setetes ketidakadilan, lama-lama akan menelan sungai kezaliman.”

Ia mengambil kurma tambahan itu — bukan karena takut miskin, melainkan takut kehilangan kepekaan nurani.

Di Pasar Masa Kini, Hukum Tetap Sama

Pasar tak lagi bising oleh teriakan pedagang, kini sunyi di ketukan layar ponsel: e-commerce, dropship, paylater. Namun esensi Bulughul Maram tak pernah menua.

– Gharar tetap sama: menyembunyikan cacat barang, membesar-besarkan kelebihan, mengaburkan syarat — di mana pun tempatnya.
– Khiyar tetap berlaku: memberi kesempatan kembali, jujur saat ditanya, tak memaksa saat pembeli ragu.
– Keberkahan tetap satu jalurnya: tidak ada jalan pintas yang melewati kejujuran.

Penutup: Harta yang Bisa Dipertanggungjawabkan

Mengamalkan fikih muamalah berarti membawa Tuhan ke dalam pasar kita. Setiap rupiah yang masuk harus dari mata air yang jernih.

Saat malam tiba dan kita memejamkan mata, pertanyaan terbesar bukanlah “Berapa yang terkumpul?” melainkan: “Apakah ada satu pun hati yang terluka oleh cara aku mencari rezeki hari ini?”

Karena kemakmuran sejati bukan seberapa banyak yang dikumpulkan, melainkan seberapa bersih harta yang kelak kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

“Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)