“Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah. Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah. Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir,” (QS. Al-Ma’arij [70]: 19-21).

Namun, siapakah yang dimaksud dengan “manusia” dalam ayat ini? Apakah orang beriman atau bukan? Al-Qurthubi mengutip pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang dimaksud pada ayat tersebut adalah mereka yang kufur.

Sementara itu, al-B00aghawi mengutip adh-Dhahhak yang mengatakan bahwa manusia yang dimaksud adalah mereka yang kikir. (Al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil fil-Quran, [Beirut: Daru Ihyait-Turats, 2000], jilid V, halaman 153). Sementara itu, menurut Tafsir al-Qurthubi, istilah “kufur” yang digunakan lebih merujuk pada “kufur nikmat” atau tidak adanya rasa syukur. Sifat ini dapat ditemukan pada siapa saja, apa pun agamanya.

Ayat 19-21 surat Al-Ma’arij menyebutkan tiga sifat utama manusia, yaitu halu’a, jazu’a, dan manu’a. Berikut adalah penjelasan detail tentang ketiga sifat tersebut:

  1. Halu’a, Halu’a adalah sifat yang mencakup ketidakpuasan, ketidaksabaran, dan rasa bosan. Al-Qurthubi dalam Tafsirnya menyebutkan bahwa menurut adh-Dhahhak, kata halu’a berarti “kufur” dalam arti ingkar, tidak bersyukur, dan tidak mengakui nikmat Allah. Al-Qurthubi juga menambahkan bahwa secara bahasa, menurut Mujahid dan Qatadah, halu’a berarti keinginan yang menggebu-gebu dan keluhan yang paling buruk. ‘Ikrimah menafsirkan halu’a sebagai “mudah bosan” dan “mudah lelah,” sedangkan adh-Dhahhak menambahkan bahwa halu’a juga bisa berarti “tidak pernah kenyang.”
  2. Jazu’a, Jazu’a berarti suka mengeluh, terutama ketika menghadapi keburukan. Menurut Tsa’lab, sifat halu’a meliputi ketidaksabaran dan ketidaksukaan saat menghadapi kesulitan, disertai sikap mengeluh, mengadu, dan protes.
  3. Manu’a, Manu’a adalah sifat kikir dan pelit ketika diberikan kebaikan. Tsa’lab mencatat bahwa jika manusia diberi nikmat atau anugerah, mereka cenderung kikir, enggan berbagi, dan bahkan melupakan Sang Pemberi nikmat.

Sifat yang harus dibangun, Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan kelemahan manusia, tetapi juga menunjukkan jalan untuk memperbaikinya:  Sabar — QS. Al-Baqarah: 153, Bersyukur — QS. Ibrahim: 7, Jujur — QS. At-Taubah: 119, Amanah — QS. An-Nisa: 58, Rendah hati — QS. Al-Furqan: 63, Memaafkan — QS. Ali ‘Imran: 134, Adil — QS. An-Nahl: 90, Menahan amarah — QS. Ali ‘Imran: 134, Tidak berlebihan — QS. Al-A‘raf: 31 dan Bertakwa — QS. Al-Hujurat: 13

Dalam Hadis,  sifat manusia antara lain:

Nabi ﷺ juga banyak menjelaskan karakter manusia. Salah satu prinsip penting adalah:

“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” — HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah

Maknanya, kesalahan merupakan bagian dari sifat manusia, tetapi manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri melalui taubat.

“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” — HR. Bukhari dan Muslim

Jadi, dalam perspektif Islam, manusia bukan makhluk yang sempurna. Manusia mempunyai kelemahan—hawa nafsu, lupa, tergesa-gesa, cinta dunia, mudah mengeluh—tetapi diberi akal, hati, wahyu, dan kemampuan untuk mengendalikan kelemahan tersebut menuju takwa dan akhlak yang baik.

Solusi universal untuk problematika manusia modern

Korelasi menarik ajaran Islam dengan Pemikiran Byung-Chul Han. Jika kita hubungkan dengan pembahasan kita sebelumnya tentang The Burnout Society karya Byung-Chul Han, ada titik temu yang sangat kuat: Han mengkritik masyarakat modern yang burnout karena menuhankan produktivitas duniawi dan terjebak dalam diri demi materi/pencapaian.

Al-Qur’an dan Hadis sudah mengingatkan sejak 14 abad lalu bahwa sifat dunia itu menipu dan melalaikan (QS. Al-Takathur: 1-2). Solusi Han berupa Vita Contemplativa (berdiam diri, merenung, lepas dari kebisingan) sangat sejalan dengan konsep Islam tentang Zuhud (tidak meletakkan dunia di hati) dan Dzikir/Tafakkur (mengingat Allah dan merenungi hakikat hidup) untuk menenangkan jiwa yang lelah,

Mengutip Ustadz M. Tatam Wijaya,, NU Online (Nu.or.id) 25 Agustus 2024. Seperti yang ditegaskan Ibnu Kaisan, manusia secara alami cenderung menyukai apa yang menyenangkan dirinya dan menjauhi apa yang tidak disukainya. Padahal, Allah memerintahkan untuk menginfakkan apa yang dicintai dan bersabar menghadapi apa yang tidak disukai. Tak heran, menurut Abu Ubaidah, ketika diberikan kebaikan, manusia sering tidak bersyukur, dan ketika menghadapi kesulitan, mereka tidak bersabar.

Manusia sering kali lupa bahwa mereka hanya bisa berkeinginan, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan Allah. Sebesar apa pun keinginannya, ia tetap harus tunduk pada kehendak Allah. Usaha yang sekuat apa pun tidak akan mampu melampaui ketetapan takdir. Seperti yang diungkapkan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam-nya: “Keinginan yang menggebu tidak akan mampu menembus benteng takdir.” (Ibnu ‘Athaillah, Syarhul Hikam, [Semarang: Toha Putra, t.t.], halaman 6).

Solusi memulihkan hubungan dengan “Orang Lain” Konsep Islam mengenal silaturahmi dan menyambung silaturahmi dengan ibadah berjamaah, termasuk perayaan Hari Raya,  selain itu waktu suci, dimana manusia lepas dari segala aktivitas apapun,  ini konsep Islam adalah sholat dengan khusuk dan berjemaah.

Setelah menggambarkan kelemahan-kelemahan manusia dalam beberapa ayat sebelumnya, Allah tidak meninggalkan manusia begitu saja tanpa petunjuk. Dia memberikan solusi yang jelas dan konkret untuk mengatasi sifat-sifat negatif tersebut. Allah berfirman:

Artinya, “…kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya, sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya), dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela,” (QS. Al-Ma’arij [70]: 22-30).

Melalui ayat-ayat  sifat buruk manusia, Allah memberikan penawar atas semua sifat buruk manusia, yaitu (1) shalat dengan istiqamah, (2) menyisihkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan, (3) meyakini hari pembalasan, (4) merasa takut akan azab Allah, dan (5) menjaga kemaluasifatn kecuali terhadap pasangan yang sah.

Menurut pandangan ulama yang dirujuk NU Online, dunia dibagi menjadi tiga tingkatan bagi manusia: Dunia sebagai Pahala: Menjadikan dunia sebagai perantara untuk taat kepada Allah dan mencari bekal akhirat yang cukup. Dunia sebagai  Hisab: Mencari harta secara halal tanpa melalaikan kewajiban kepada Allah, namun akan dihisab oleh-Nya. Dunia sebagai Azab: Kecintaan berlebihan (hubbud dunia) hingga melalaikan Allah dan memicu kemaksiatan.

Dengan demikian, Al-Qur’an dan Hadis tidak mengajarkan manusia untuk menjadi tidak produktif, tetapi memberikan batas dan orientasi agar produktivitas tidak berubah menjadi eksploitasi terhadap diri sendiri.

Zuhud,  zikir dan tafakur serta silaturahmi dan menyambung silaturahmi adalah solusi nyata untuk problematika manusia modern.  Dan jika keempat solusi tersebut diperas lagi maka akan menjadi satu amalan yang jika amalan ini buruk, maka buruk juga amalan yang lain; amalan ini adalah sholat lima waktu tanpa terputus dan shalatnya berjamaah.

Maka kelima solusi Han yaitu, tindakan sadar untuk menolak tuntutan dunia luar, membiarkan diri kita bosan tanpa distraksi, di situlah pikiran mulai memproses hal-hal yang benar-benar bermakna, bukan sekadar merespons stimuli luar, kembali berinteraksi dengan hal-hal fisik yang nyata dan membutuhkan waktu lama untuk tumbuh, waktu yang tidak memiliki tujuan praktis sama sekali yang dihabiskan untuk aktivitas yang tidak menghasilkan uang atau pencapaian,  dan mengalihkan fokus keluar, membangun hubungan yang mendalam, intim, dan nyata dengan sesama manusia (The Other),  semuanya termaktub dalan aktivitas amalan dan ibadah dalam Islam,  terutamanya sholat.

Di dalam sholat semua aktivitas berhenti, penulis yakin hanya umat muslim yang beriman memiliki waktu tanpa hp dan gaget  minimal 5 waktu sehari. Dalam sholat khusyuk, semua pikiran dan hal keduniawian dikosongkan hanya mengingat satu zat saja.  Untuk umat Islam Hayya A’lassholah.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq. Wallahua’ lam bissawab.