Oleh: Haji Boy Dahlan De — Guru Iqro

Potret manusia modern saat ini,  yang telah terbentuk akibat pergeseran nilai sosial dan kemajuan teknologi.  Dalam buku “The Burnout Society” (Masyarakat Burnout), Byung-Chul Han filsuf Korea, menjelaskan mengapa manusia modern saat ini sangat rentan mengalami kelelahan mental, depresi, dan gangguan kecemasan.

Han berargumen bahwa kelelahan yang dirasakan hari ini bukan sekadar capek fisik akibat kerja keras, melainkan sebuah penyakit sistemik dari struktur sosial tempat manusia hidup.

Berikut adalah poin kunci dalam buku Han yaitu pergeseran dari “Masyarakat Disiplin” ke “Masyarakat Pencapaian”, dulu dengan prinsip “Kamu tidak boleh” atau “Kamu harus”. Kendalinya berupa larangan dan kepatuhan, saat ini, dinding pembatas itu runtuh. Prinsipnya berubah menjadi “Kamu bisa” atau “Semua hal itu mungkin”. Manusia  hidup di era yang memuja produktivitas, self-improvement, dan kesuksesan finansial.

Kedua eksploitasi diri secara Sukarela (Self-Exploitation), jika dulu pekerja dieksploitasi oleh bos atau pemilik modal (eksploitasi dari luar), sekarang manusia modern mengeksploitasi dirinya sendiri secara sukarela.

Manusia bertindak sebagai bos sekaligus budak bagi dirinya sendiri, merasa bersalah jika tidak produktif, menganggap waktu luang sebagai waktu yang terbuang, dan terus memaksa diri bekerja demi mencapai target ego (karier, estetika hidup di media sosial, kekayaan).

Karena tidak ada bos fisik yang bisa dilawan, kita tidak bisa melakukan demonstrasi atau mogok kerja. Musuh manusia adalah refleksi dirinya sendiri, yang akhirnya berujung pada perang batin dan depresi.

Ketiga, Kekerasan Positivitas (Violence of Positivity). Dulu, bahaya datang dari “negativitas” (sesuatu yang asing dari luar, seperti virus atau musuh perang). Sekarang, ancaman terbesar datang dari kelebihan positivitas (hyper-positivity). Bentuknya berupa tuntutan untuk selalu optimis, selalu termotivasi, dan selalu bahagia.

Yang terakhir adalah Aktivitas Berlebih (Hyperactivity) dan Hilangnya Kemampuan Merenung, manusia modern kehilangan kemampuan untuk Vita Contemplativa (hidup yang kontemplatif/merenung). Manusia menjadi makhluk yang hiperaktif dan selalu melakukan multitasking.

Menurut Han,  hewan liar di hutan juga melakukan multitasking (makan sambil waspada terhadap predator). Manusia justru maju karena kemampuannya untuk fokus mendalam, merenung, dan menikmati keheningan. Akibat terlalu sibuk merespons stimuli (notifikasi HP, email kerjaan, tren terbaru), manusia tidak lagi memiliki ruang di kepala untuk benar-benar beristirahat.

Han menawarkan solusi filosofis dan eksistensial untuk keluar dari jebakan burnout. Jalan keluar yang ia tawarkan berpusat pada pemulihan kembali kehidupan yang kontemplatif (Vita Contemplativa). Berikut adalah poin-poin penting bagaimana Han menyarankan kita untuk lepas dari kungkungan burnout society:

Pertama mempraktikkan “Negativitas” (Kemampuan Memutus Hubungan), jika burnout disebabkan oleh kelebihan positivitas (selalu berkata “Ya” pada pekerjaan, stimulasi, dan produktivitas), maka solusinya adalah melatih kekuatan untuk tidak melakukan sesuatu (the power of not-doing).

Belajar Berkata “Tidak”: Ini bukan sekadar malas, melainkan tindakan sadar untuk menolak tuntutan dunia luar. Mematikan Stimulasi: Melatih diri untuk tidak langsung merespons setiap notifikasi, tren, atau pesan yang masuk. Manusia butuh kemampuan untuk menutup diri dari kebisingan dunia agar otaknya bisa beristirahat.

Kedua merayakan Deep Boredom (Rasa Bosan yang Mendalam), Han menyebut rasa bosan yang mendalam sebagai “burung legendaris yang mengerami telur pengalaman.”Di era digital, manusia langsung membuka HP setiap kali merasa bosan barang sedetik.

Akibatnya, manusia kehilangan ruang kosong di pikiran. Menurut Han, rasa bosan adalah gerbang menuju kreativitas sejati dan ketenangan. Ketika manusia membiarkan diri kita bosan tanpa distraksi, di situlah pikiran mulai memproses hal-hal yang benar-benar bermakna, bukan sekadar merespons stimuli luar.

Ketiga mengganti “Waktu Kerja” dengan “Waktu Suci” (Festive Time). Masyarakat modern cenderung melihat waktu istirahat hanya sebagai sarana untuk “mengisi baterai” agar bisa bekerja lagi dengan lebih produktif keesokan harinya. Istirahat akhirnya tetap tunduk pada berhala produktivitas.

Han mengajak kita kembali ke konsep Waktu Suci atau Waktu Perayaan (Festive Time), yaitu waktu yang tidak memiliki tujuan praktis sama sekali. Waktu ini dihabiskan untuk aktivitas yang tidak menghasilkan uang atau pencapaian—seperti bermain musik, berjalan-jalan tanpa tujuan, berkumpul dengan teman tanpa membicarakan pekerjaan, atau sekadar memandang langit. Aktivitas yang dilakukan demi aktivitas itu sendiri (art for art’s sake).

Keempat beralih ke Alam dan Hal-Hal yang Lambat (In Praise of the Earth) Dalam karya-karyanya yang lebih baru, Han menceritakan pengalamannya sendiri yang mulai gemar berkebun. Ia menyarankan untuk kembali berinteraksi dengan hal-hal fisik yang nyata dan membutuhkan waktu lama untuk tumbuh, seperti tanah dan tanaman. Berinteraksi dengan alam memaksa manusia modern tunduk pada ritme bumi yang lambat dan tidak bisa dipercepat oleh algoritma digital. Hal ini menyembuhkan jiwa yang lelah akibat tuntutan serba instan.

Kelima memulihkan hubungan dengan “Orang Lain” (The Other) Burnout diperparah oleh narsisisme digital, di mana manusia terlalu fokus pada diri sendiri (membangun citra di media sosial, mengejar target pribadi). Manusia terjebak dalam egonya sendiri.

Solusinya adalah mengalihkan fokus keluar, membangun hubungan yang mendalam, intim, dan nyata dengan sesama manusia (The Other). Mendengarkan orang lain secara mendalam tanpa niat untuk memanfaatkan mereka adalah bentuk penyembuhan bagi jiwa yang kesepian.

Sifat sifat dunia menurut ajaran Islam

Berikut adalah rincian hakikat dan sifat kehidupan dunia dalam pandangan Islam yang sering dikutip dar bNU Online. Hanya Sementara: Kehidupan dunia ibarat fana atau tempat singgah, sedangkan kehidupan yang kekal abadi adalah akhirat.

Permainan dan Senda Gurau: Berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat 20, dunia sering kali melenyapkan manusia melalui perhiasan, kemegahan, serta megahnya harta dan keturunan. Berasal dari Kata yang Rendah: Kata dunia berasal dari bahasa Arab duna (rendah) atau daniy (dekat), yang berarti posisinya lebih rendah daripada akhirat. Tempat Menanam Amal: Meskipun sifatnya sementara, dunia memiliki kedudukan krusial sebagai ladang atau jembatan untuk mencari bekal menuju akhirat (menentukan nasib akhir)

Apabila kita cermati pendapat Han tersebut di atas sebenarnya telah termaktub dalam ajaran Rasulullah saw. Berikut adalah sifat-sifat dunia yang dijelaskan secara gamblang dalam Al-Qur’an dan Hadis:

  1. Fana dan Sementara (Tidak Kekal) Dunia memiliki masa kedaluwarsa dan segala keindahannya pasti akan hancur. Kebahagiaan maupun kesedihan di dunia sifatnya hanya sesaat.Al-Qur’an: “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185).Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda, “Hiduplah kamu di dunia seakan-akan kamu barang asing atau musafir (orang yang lewat dijalan).” (HR. Bukhari).
  2. Tempat Ujian dan Cobaan Dunia dirancang sebagai tempat pembuktian siapakah di antara manusia yang paling baik amalnya, baik melalui ujian kesenangan maupun kesusahan. Al-Qur’an: “(Dialah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2).
  3. Ladang Menanam untuk Akhirat Dunia adalah satu-satunya tempat di mana manusia bisa mengumpulkan modal berupa pahala. Apa yang ditanam di dunia, itulah yang akan dipanen di akhirat.Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim). Maksud “penjara” di sini adalah adanya batasan hukum/syariat demi kebaikan manusia di akhirat kelak.
  4. Sendau Gurau dan Permainan Bagi orang yang terlena, dunia tampak sangat sibuk dan penting, padahal hakikatnya penuh dengan kepalsuan yang melalaikan jika tidak dibarengi iman.Al-Qur’an: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sendau gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-An’am: 32).
  5. Sangat Kecil dan Rendah Nilainya di Sisi Allah, Allah menggambarkan bahwa kemewahan dunia secara keseluruhan tidak ada harganya jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda, “Seandainya dunia ini ada nilainya di sisi Allah seberat sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walau hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi).

Sifat sifat manusia menurut ajaran Islam

Sifat-sifat manusia menurut Al-Qur’an dan Hadis, berikut poin-poin utamanya. Saya bedakan antara sifat manusia yang menjadi kelemahan dan sifat yang dianjurkan untuk dibangun.

Sifat manusia yang disebut dalam Al-Qur’an

  1. Lemah, manusia diciptakan dalam keadaan lemah. QS. An-Nisa: 28 — “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu karena manusia diciptakan bersifat lemah.”
  2. Suka tergesa-gesa, manusia sering ingin memperoleh sesuatu dengan segera. QS. Al-Isra: 11 — manusia bersifat ‘ajūlā (tergesa-gesa).
  3. Mudah berkeluh kesah, apabila mendapat kesulitan, manusia mudah mengeluh; apabila mendapat nikmat, cenderung kikir. QS. Al-Ma‘arij: 19–21.
  4. Suka berdebat, manusia sering membantah dan berargumentasi, bahkan terhadap kebenaran. QS. Al-Kahfi: 54.
  5. Sangat mencintai harta, kecintaan terhadap harta dapat menjadi ujian.. QS. Al-‘Adiyat: 8.
  6. Zalim dan jahil, manusia dapat melakukan kezaliman dan bertindak karena ketidaktahuan. QS. Al-Ahzab: 72.
  7. Kufur terhadap nikmat, sebagian manusia mudah melupakan nikmat ketika menghadapi kesulitan. QS. Al-Isra: 67 dan beberapa ayat lainnya.
  8. Mudah lupa, Al-Qur’an menggambarkan manusia memiliki kecenderungan lupa. QS. Taha: 115.
  9. Memiliki hawa nafsu, manusia memiliki kecenderungan mengikuti keinginan dirinya; karena itu diperlukan pengendalian diri. QS. Yusuf: 53.
  10. Memiliki potensi baik dan buruk, jiwa manusia diberi kemampuan untuk mengenali kecenderungan kepada keburukan maupun ketakwaan.nQS. Asy-Syams: 7–10.

Mengutip Ustadz M. Tatam Wijaya,, NU Online (Nu.or.id) 25 Agustus 2024 .  Manusia sering kali tidak menyadari tabiat asli dan kelemahan-kelemahannya sendiri, sehingga terjebak dalam siklus perilaku negatif yang sama. Padahal, jauh-jauh hari, Allah telah menggambarkan dengan jelas sifat, tabiat, dan kelemahan manusia. Salah satu contohnya adalah dalam surah Al-Ma’arij ayat 19-21, di mana Allah berfirman: