Kekeringan juga semestinya membuat kita melihat persoalan secara lebih luas. Jangan sampai kita hanya memandang langit, tetapi lupa melihat bumi yang kita pijak.

Dalam QS. Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia. Ayat ini tidak boleh digunakan secara serampangan untuk menyimpulkan bahwa setiap kekeringan pasti merupakan hukuman akibat dosa manusia. Namun ayat tersebut cukup menjadi bahan renungan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab terhadap kerusakan yang terjadi di lingkungannya.

Kita hidup di tengah zaman ketika air sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak pernah habis. Ketika keran mengalir, kita menggunakannya tanpa banyak berpikir. Ketika sumur masih penuh, kita jarang bertanya dari mana air itu berasal dan bagaimana menjaganya tetap tersedia. Namun ketika kemarau datang, ketika sumur mengering dan air bersih menjadi sulit didapatkan, barulah kita memahami betapa berharganya setetes air.

Karena itu, meminta hujan harus berjalan bersama dengan menjaga air. Berdoa agar Allah menurunkan hujan tidak boleh membuat kita berhenti berikhtiar. Kita tetap harus menjaga sumber air, menanam pohon, merawat lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat penggunaan air, dan menjaga daerah resapan. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat terdampak kekeringan mendapatkan akses air bersih serta membangun kebijakan ketahanan air yang tidak hanya bersifat darurat.

Islam tidak mengajarkan tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Tawakal datang setelah ikhtiar. Kita memohon kepada Allah, tetapi pada saat yang sama menggunakan akal dan tenaga yang telah dianugerahkan-Nya. Kita meminta hujan, tetapi juga menjaga bumi. Kita memohon rezeki, tetapi tetap bekerja. Kita berdoa agar disembuhkan, tetapi tetap mencari pengobatan. Begitu pula dalam menghadapi kekeringan: doa dan usaha semestinya berjalan beriringan.

Ada pelajaran lain yang mungkin lebih sunyi dari kekeringan. Jangan-jangan yang kering bukan hanya tanah, tetapi juga hati manusia. Hati yang kering dari rasa syukur, lisan yang kering dari zikir, rumah yang kering dari bacaan Al-Qur’an, dan kehidupan sosial yang kering dari kepedulian. Kita begitu sibuk meminta langit menurunkan air, tetapi lupa membasahi hati dengan taubat.

Mungkin karena itu, belum turunnya hujan bukan alasan untuk berputus asa. Kita tidak pernah mengetahui kapan dan bagaimana Allah memberikan jawaban atas doa-doa kita. Tugas seorang hamba adalah berdoa, berusaha, bersabar, dan bertawakal. Jika hujan belum turun hari ini, tetaplah mengetuk pintu langit. Perbanyak istighfar. Perbanyak sedekah. Perbaiki hubungan dengan sesama. Tinggalkan kebiasaan yang merusak. Dan teruslah menjaga bumi sebagai amanah dari Allah.

Kita telah menengadahkan tangan ke langit melalui Istisqa. Kini mungkin saatnya kita juga menundukkan hati. Sebab bisa jadi, yang sedang kita tunggu bukan hanya hujan yang membasahi tanah, tetapi juga rahmat Allah yang membasahi kehidupan.

Hujan akan turun ketika Allah menghendakinya. Tetapi sebelum hujan itu tiba, semoga hati kita telah lebih dahulu basah oleh taubat, lisan kita dipenuhi istighfar, tangan kita ringan bersedekah, dan kehidupan kita dipenuhi kepedulian.

Sebab ketika manusia meminta hujan kepada langit, jangan sampai ia lupa bahwa bumi pun sedang meminta manusia untuk menjaganya.