Menjejak Kota Nabi: Kelana Suci Memeluk Rindu di Masjid Nabawi (VI)
Di luar dugaan, askar menjawab, “Boleh.”
Askar menyingkap tirai lalu hamba masuk. Hamba kaget karena ternyata lewat pintu Bab Jibril, hamba langsung berada di sisi timur rumah Rasulullah SAW, rumah Sayyidah Fatimah Az-Zahra RA, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Hamba pun shalat di saf yang berbatasan dengan dinding makam, namun belum termasuk Raudhah. Ternyata muazin dan mukimin Madinah biasa masuk lewat pintu Bab Jibril. Dengan kata lain, jamaah umum biasanya tidak masuk Nabawi lewat pintu ini.
Hamba shalat Dzuhur di saf yang berjarak dua saf dari Raudhah. Saat selesai Dzuhur, hamba melihat jamaah langsung berlarian menuju Raudhah. Hamba pun ikut karena refleks melihat gerakan jamaah. Alhamdulillah, hamba berhasil masuk Raudhah! Sebuah anugerah yang tidak terduga bisa masuk Raudhah dengan mudah di siang hari. Hamba tersungkur sujud di samping rumah Rasulullah SAW di Raudhah, memohon keselamatan dunia akhirat dan kelapangan hidup di dunia serta akhirat tentunya memohon kebaikan di dunia dan akhirat sesuai perintah Allah SWT.
Hamba shalat sunnah dengan sujud yang panjang. Sebab, pesan guru adalah memperpanjang sujud untuk berdoa saat shalat sunnah di Raudhah. Jika berdoa setelah selesai shalat sunnah, tidak akan sempat lagi karena langsung diminta bergerak dan pergi meninggalkan Raudhah oleh askar. Dalam sujud, hamba memohon segala keinginan yang baik di dunia dan akhirat.
Dengan rasa syukur, hamba berlalu dari Raudhah sambil menyapa Rasulullah SAW serta dua khalifah sahabat Beliau SAW. Hamba keluar dari Masjid Nabi melalui pintu Baqi, menuju ke sisi utara Nabawi untuk menemui cinta yang sudah menunggu di sana. Berdua kami menikmati keindahan dan kemegahan Masjid Nabi sambil menunggu Ashar, lalu kembali ke penginapan setelah Ashar.
Menjelang Maghrib, hamba dan cinta kembali ke Nabawi untuk beritikaf dan menikmati bulan yang masih terang sebagian indah menjelang Dzulhijjah.

